TN Kutai Menanam Ledakan Masalah

Kompas 2009-09-08/HALAMAN 12 e-paper Lingkungan

Samarinda – Pengurangan luas Taman Nasional Kutai berpotensi memicu ledakan masalah di kemudian hari karena usulan itu muncul dari bermacam-macam motif di belakangnya.

Taman Nasional (TN) Kutai di Kalimantan Timur itu masih bisa diselamatkan dengan menerapkan zona pemanfaatan khusus secepatnya. Konsep ini merupakan jalan tengah antara konservasi dan perlindungan hak-hak sosial budaya masyarakat.

Demikian dikemukakan kalangan pemerhati dan akademisi lingkungan hidup yang dihubungi secara terpisah di Kota Samarinda, Senin (7/9). Mereka dimintai komentarnya seputar pernyataan Menteri Kehutanan Malem Sambat Kaban.

”Kalau orang yang sudah 30 tahun di situ, bisa enclave,” kata MS Kaban menanggapi pertanyaan pers di Kota Samarinda, Sabtu pekan lalu.

Niel Makinuddin, pemerhati lingkungan dan sosial, menyayangkan pernyataan Kaban itu. Masyarakat bisa menganggap Kaban merestui luas TN Kutai dikurangi.

”Lebih dari 50 taman nasional di Indonesia diprediksi mengalami masalah serius. Kebanyakan karakteristik masalahnya serupa dengan TN Kutai,” katanya dalam siaran persnya.

Indonesia bisa disorot secara tajam, bahkan dikucilkan, oleh komunitas pemerhati lingkungan internasional.

Zona pemanfaatan khusus pada prinsipnya mengizinkan orang bermukim di TN Kutai pada lokasi tertentu dengan syarat menaati aturan yang berlaku. Lahan tempat tinggal dan lahan usaha tidak bisa dimiliki, apalagi dijual. Pemukim juga patut menjamin kelestarian lingkungan TN Kutai.

Direktur Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman Dr Chandradewana Boer berpendapat sama. Namun, ia lebih menekankan, solusi apa pun, enclave atau zona pemanfaatan khusus, harus segera direalisasikan.

”Saya cenderung zona khusus, tetapi penekanannya pada pengaturan penduduk,” katanya.

Masalah bakal muncul jika enclave dilaksanakan. Boer mengatakan, TN Kutai dikenal amat kaya dengan kandungan batu bara. Pelepasan kawasan itu bakal membuka lebar pintu eksploitasi batu bara.

Warga akan kembali merusak TN Kutai dan mungkin mengusulkan lagi pengurangan luas. Balai TN Kutai menyatakan, pembalakan ilegal, kebakaran, dan penguasaan oleh masyarakat menghancurkan sekitar 53.000 hektar dari 198.629 hektar kawasan itu.

Di habitat orangutan (Pongo pygmaeus morio) itu bermukim sekitar 23.000 warga dari tujuh desa di wilayah administratif Kabupaten Kutai Timur. Pemerintah lokal mengusulkan TN Kutai dikurangi 24.000 hektar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: