Bandara Tjilik Riwut Kembali Dibuka

Kompas 2009-09-08/Halaman 22 e-paper Nusantara

Palangkaraya – Setelah sempat lumpuh pada Minggu (6/9) akibat pekatnya kabut asap yang memperpendek jarak pandang menjadi 700 meter, Bandara Tjilik Riwut di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kembali dibuka pada Senin sekitar 13.30. Jarak pandang pada landasan pacu membaik, menjadi lebih dari 1.600 meter.

Hal itu dikemukakan Kepala Subbagian Tata Usaha Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Usdek.

Lumpuhnya Bandara Tjilik Riwut pada Minggu mengganggu kegiatan ekonomi para sopir taksi, porter (pengangkut barang), maupun penjual makanan di sekitar bandara.

Kepala Bandara Tjilik Riwut Jamaluddin Hasibuan mengatakan, penerimaan negara dari pelayanan jasa penumpang pesawat udara dan biaya pendaratan juga terpengaruh.

Sementara itu, di Pulau Buttoa, tepatnya di Desa Tonyamang, Kecamatan Binuang, Polewali Mandar, Sulawesi Tengah, sekitar 10 hektar lahan terbakar, Minggu malam sampai Senin pagi.

Lahan di antaranya berupa kebun kelapa, kakao, dan buah. Kebakaran membuat panik 500 keluarga di pulau itu karena khawatir merembet ke permukiman.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar M Danial mengakui kejadian ini. Menurut dia, penyebabnya adalah petasan dan kembang api yang jatuh di alang-alang. Api cepat menyebar ke kebun di sekitarnya akibat angin yang bertiup kencang.

Kebakaran juga terjadi di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Sejak Januari-awal September 2009 tak kurang dari 800 hektar kawasan berupa hutan produksi, hutan lindung, dan padang rumput savana terbakar.

Kebakaran terbesar terjadi pada Mei-Agustus 2009. Diperkirakan, kebakaran masih bisa berlangsung sampai November 2009 karena musim hujan biasanya terjadi awal atau pertengahan Desember.

Kepala Dinas Kehutanan Belu Thisera Antonius yang dihubungi di Atambua, Senin, mengatakan, penyebab kebakaran terutama sikap masyarakat yang tidak paham mengenai fungsi hutan. Mereka biasa membuang korek api yang sedang menyala ke semak kering.

Hari Sabtu terjadi kebakaran hutan produksi jenis jati milik negara seluas 30 hektar di Uduk Ama, Kecamatan Atambua Selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: