Pengerukan "Coba-Coba" Teluk Kendari

Kendari Pos 2009-09-05/Halaman Lingkungan

Proyek pengerukan lumpur Teluk Kendari yang dilaksanakan Pemkot kelihatan tanpa perencanaan yang benar.

Buktinya adalah kegagalan operasional pengerukan yang hingga kini belum juga jalan, masih sebatas coba-coba alat, kendati sudah setahun lebih dianggarkan.

Kepala Dinas PU Kota Kendari, Syamsul bahri Sangga, yang bertanggung jawab secara teknis atas proyek miliaran rupiah terebut hanya bangga dengan keberhasilan perakitan rancang bangun dan rekayasa mesin pengeruk Teluk Kendari. Sementara dia tidak risau dengan kegagalan mengeluarkan lumpur dari dalam teluk sebagaimana tujuan proyek diadakan.

Ia mengakui beberapa kendala yang dihadapi dalam proyek pengerukan tersebut, diantaranya karena lumpur bersenyawa dengan air sehingga lumpur yang telah diisap kembali lagi ke laut, dan lumpur yang cukup padat sehingga mempenagaruhi proses pengisapan.

Selain itu, jaringan untuk mengendapkan lumpur belum bagus dan kapal pengeruk operasi baru dua unit. Kedua kapal rakit inilah yang hingga kini sedang dalam proses uji coba, walaupun telah menelan anggaran sebanayak Rp 1, 5 miliar.

“Kapal pengeruk itu terus melakukan trial termasuk operatornya sedang mempelajari kapal tersebut. Proyek ditenderkan. Nama proyek rancang bangun dan rekayasa kapal.

Jangan masyarakat mengira, dengan menggunakan dua kapal unit lantas bisa menyelesaikan pengerukan teluk seluas 2000 hektar dalam sepekan.

Dengan menggunakan 10 unit kapal saja masih membutuhkan dua tahun proses pengisapan yang berjalan secara terus-menerus. Artinya, jika hanya dua unit, itu pengerukan bisa mencaapi 5 sampai 10 tahunan”, tuturnya.

Penuturan Kadis PU tersebut seakan membuka kedok bahwa proyek itu memnang dilakukan tanpa perencanaan yang matang. Pemkot Kendari dinilai melaksanakan proyek “coba-coba” terhadap pengerukan Teluk Kendari, sehingga merugikan keuangan daerah.

“Sistem try dan error yang sementara dilakukan Pemkot dalam pengerukan lumpur teluk seharusnya tidak boleh terjadi” katanya.

“Kenapa harus “coba-coba” sementara kita mempunyai anggaran dan sumber daya yang tersedia. Kesalahan karena perencanaan yang tidak baik,” katanya.

Menurut untuk perencanaan yang baik maka sebelumnya sudah ada perhitungan kapasitas mesin, daya sedot, dan hal teknis lainnya. Dengan demikian maka anggaran yang disiapkan, tidak mubadzir.

Sejauh ini belum ada penjelasan resmi dari Pemkot Kendari kepada DPRD soal “terbelangkainya” proyek tersebut.

Anggaran DPRD Kota Kendari Syamsudin Rahim, ikut menyorot bahwa kehadiran dua unit kapal kerok yang sampai saat ini belum bisa dimaksimalkan adalah langkah pemborosan anggaran” katanya.

Demikian pula dengan Ketua DPRD Kendari Abdul Razak yang mepertanyakan kapasitas dari mesin terbut.

“Selama ini, belum ada penjelasan teknis dari ekskutif terkait daya mesin penyedot”, kata Razak.

Sementara itu, Kepala Bappeda Kota Kendari, alamsyah Lotunani seakan lepas tangan terhadap kegagalan proyek tersebut. Ketika ditanya wartawan soal persoalan biaya yang digunakan dalam pengerukan teluk dia melempar kepada Dinas PU Kota kendari,

Hanya saja ia sendiri memberi lampu merah untuk penganggaran pada APBD perubahan. Untuk mengusulkan itu, harus jelas dulu satu program dan sudah jelas hasil yang diharapkan dari peruntukkan biaya APBD sebelumnya.

Jadi, kalau sudah ada hasil dalam jangka waktu dekat, maka itu baru bisa diikutkan dalam penguslan APBD perubahan 2009.

Wakil Walikota Kendari, Musadar Mappasomba, pun kelihatan ingin menyelamatkan diri dari permasalahan ini. Nada komentarnya menjurus kepada dukungan antisipatif yang selama ini disuarakan LSM.

Menurut Musadar, jika hanya sekadar proses pengerukan tanpa ada tindakan pencegahan sumber masuknya lumpur teluk Kendari maka pengerukan itu memang tidak efektif”, katanya.

Komentar ini, pekan lalu, diucapkan Direktur Ekskutif Lepmil-Sultra, M Alim Nur, bahwa pengerukan tak akan optimal sehingga untuk jaminan keberlanjutan, jalan penyeleseian mesti dengan mengatasi asal-usul pendangkalan itu sendiri.

Menurut Musadar, pemkot juga akn melakukan tindakan pencegahan sedimentasi sebelum masuk ke teluk.

“Pencegahan di hulu dilakukan dengan membangun cekdam, pembersihan dan penghijauan. Seharusnya jika pencegahan ini dilakukan di tingkat provinsi. Lumpur yang masuk ke Teluk Kendari bukan hanya berasal dari Kendari tapi juga kiriman dari kabupaten lain seperti Konawe dan Konsel”, katanya.

Perlunya koordinasi dengan Pemrov Sultra sebab, menurut Musadar, jika pun teluk cekdam, maka beberapa desa di Konsel akan tenggelam. oleh nya itu, harus dipertemukan beberapa daerah ini dengan mediasi Pemrov guna membahas penanggulangan masuknya sedimentasi ke Teluk kendari. Nilai manfaatnya jika dapat dibuatkan cekdam adalah bisa untuk pengairan, sumber pengolahan air minum dan tempat rekreasi.

Cara penanganan yang lain adalah membuat karakter pada masyarakat dengan meningkatkan kesadarannya akan pentingnya kebersihan sungai. Jadi, perilaku buruk masyarakat membuang sampah sembarang ke sungai dapat diatasi sekaligus melakukan penghijauan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: