Jawa Berpotensi Diguncang Gempa 9 SR

2009-09-04/Halaman 9 E-Paper Media Indonesia

Awal September ini, giliran gempa bumi mengguncang Jawa Barat. Pusatnya berada di perairan barat daya Kabupaten Tasikmalaya dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR).

“Good news (kabar baik),”
cetus pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaja, kemarin.

Sebab setelah diteliti, rupanya gempa tidak berpusat pada tumbukan lempeng-lempeng Australia dan Eurasia di dasar samudra alias gempa berada di luar zona batas lempeng (subduksi). Artinya, masyarakat Jawa Barat baru saja terhindar dari gempa bumi dahsyat yang bisa mencapai kekuatan 9 SR.

“Sesungguhnya, Pulau Jawa bisa mengeluarkan energi gempa hingga 9 SR,” kata dia.

Banyak sumber-sumber gempa matang yang saat ini ada di daratan dan perairan.
Tinggal menunggu titik jenuh, magnitude gempa akan naik sampai perkiraan Danny.

Pernyataan senada diutarakan juga oleh ahli geoteknik ITB I Wayan Sengara. “Gempa Tasikmalaya kemarin bukan yang terbesar dalam sejarah.
Tinggal menunggu waktunya, tekanan lempeng samudra di selatan Jawa akan terakumulasi.”

Menurut Danny, saat ini sumber gempa besar di sekitar zona subduksi Jawa belum diketahui semua. “Apalagi yang di darat. Kalau mau dibandingkan dengan kerapatan data kegempaan Sumatra, rasionya 1:10,” kata dia.

Intinya, minimnya data tersebut bisa berakibat fatal bagi mitigasi bencana. Maka dari itu, rencananya pada 2010 akan terbit peta zonasi gempa Indonesia yang baru untuk merevisi peta lama dalam PP Nomor 36/2005 tentang peraturan pelaksanaan UU 28/2002 tentang bangunan gedung.

“Peta yang lama sudah tidak relevan lagi, belum diperbarui lagi sejak 2002. Contohnya, patahan Opak yang merupakan sumber gempa tahun 2006 di Yogyakarta tidak terdeteksi,”
ujar I Wayan Sengara, koordinator tim penyusunan peta zonasi gempa tersebut.

Saat ini metodologi untuk mengkaji sumber gempa sudah bertambah canggih.
Itulah yang akan diterapkan dalam peta baru, sekaligus menghimpun sejumlah laporan kegempaan yang tercecer di banyak lembaga.

Konstruksi kacau balau “Sepanjang perjalanan dari Bandung ke Pangalengan, semakin maju ke selatan semakin banyak rumah penduduk yang roboh,” demikian I Wayan Sengara, coba menerjemahkan hasil tinjauan lapangan, kemarin.

Secara kasar, diperkirakan 40% bangunan di Kota Pangalengan, Kabupaten Bandung, rusak parah dan mesti dirobohkan karena tidak layak huni. Selain wilayah ini masuk zona yang berguncang hebat saat terjadi gempa Tasikmalaya, kerusakan parah lebih karena rumah tidak dibangun mengikuti ketentuan tahan gempa.

“Ini tipikal sekali di Indonesia, sosialisasi bangunan tahan gempa belum jalan,” ungkap Wayan.

Tak cuma Pangalengan, sejumlah besar kerusakan pascagempa di kawasan yang kerap berkecamuk seperti Yogyakarta, Aceh, Nias, dan Bengkulu juga disebabkan kebanyakan warga membangun rumah dengan konstruksi yang kacau balau.

Belum lagi kalau mengingat amplifikasi getaran yang berasal dari kondisi tanah. Wayan mengatakan bangunan yang didirikan di atas tanah yang lunak seperti cekungan Bandung akan berguncang 2-3 kali lebih hebat ketimbang bangunan yang berdiri di atas lapisan tanah yang sudah keras.

Antisipasi tsunami Perlu diketahui, tak cuma minim informasi kegempaan Pulau Jawa pun minim alat deteksi dini tsunami.

“Saat ini belum ada buoy di zona subduksi selatan Jawa.
Idealnya ada tiga, masing-masing satu setiap jarak 200-300 kilometer,” terang Asisten Deputi Menteri Riset dan Teknologi Urusan Analisis Kebutuhan Iptek Edie Prihantoro.

Adapun, saat ini peringatan gempa untuk wilayah tersebut masih mengandalkan observasi gelombang laut dengan tide gauge milik Bakosurtanal.

Seandainya sudah ada buoy pelaporan bahaya tsunami hanya butuh waktu 2 menit. Menurut Edie, bilamana terjadi gempa, dalam waktu 5 menit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika akan menghitung kekuatan dan mencari tahu lokasinya.

Untuk potensi tsunami, batasannya yaitu gempa berpusat di perairan dangkal (kedalamannya kurang atau sama dengan 30 kilometer) dan kekuatannya mencapai 7 SR.

Buoy yang terpasang di batas lempeng bisa dalam waktu singkat mende teksi potensi tsunami dan mengirim sinyal ke darat. Sementara dalam gempa Tasikmalaya baru-baru ini, konfirmasi tsunami baru , didapat 30-40 menit kemudian setelah gelombang menempuh jarak 250-300 kilometer dan mencapai tide gauge di pantai.

Dan, pascagempa Tasikma laya, stasiun pasang surut di Pamengpeuk dan Pelabuhan Ratu mencatat terjadi perubah an gelombang yang disebabkan gempa sebesar 0,2-1 meter atau terjadi tsunami lokal di sekitar pesisir Garut dan Pelabuhan i Ratu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: