8 Pejabat Dishut Diduga Terlibat

Kendari Ekspres 2009-09-04/Halaman Utama

Kasus jati cagar alam di Baubau, Dokumen Lengkap, kayunya Mencurigakan

Raha– Disinyalir kasus cagar alam yang lolos di Muna berkaitan dengan 8 pejabat di Dishut Muna. Mulai dari KRPH Bonea, KUPTD Muna Utara I yang menguasai kayu, hingga penandatanganan rekomendasi dalam halini Kadishut.

Bermula dari pemuatan 6 batang kayu jati log sebesar empat pelukan orang dewasa, disaksikan banyak orang pada Minggu pekan lalu. Mobil tronton warna merah bernopol DT 656 C, plat merah, lewat dalam kota Raha menuju Wamengkoli sekitar pukul 09.00 Wita.

Mobil sempat mogok di jembatan Warangga akibat kerusakan injeksi mesin sehingga harus diperbaiki oleh montir.

Tronton dikawal mobil patroli Polhut dan sebuah mobil Kijang, beriringan menuju Wamengkoli.

Dari informasi yang diperoleh, mengungkapkan kayu itu diangkut melalui Izin Pemanfaatan Kayu rakyat milik La Mogo, warga Desa Tombula, Kecamatan Tungkuno.

Izin itu dipakai seseorang bernama Sutrisno untuk melakukan pengolahan kayu. Sesuai bocoran rencana, kayu itu hendak dikirim ke PT Jati alam, Bali, untuk dijadikan peti mati. Dikirim via pelabuhan Murhum, Baubau.

Bocoran orang dalam Dishut Muna, mengungkapkan awalnya 6 batang jati log itu ditangkap di Tampo dan disita KRPH Bonea yang saat itu dipimpin La Iji.

KRPH dibawah naungan KUPTD Muna Uatra I, yang dipimpin La Ngkaeno. Anggap saja benar kayu itu hasil tangkapan dari tangan pencuri, saat itu, kayu itu diamankan ke KRPH Bonea.

Entah bagaimana belakangan kayu itu disimpan di depan rumah Kapolhut, Sahirudin Gande.

Entah apa pula, kayu itu kemudian diangkut ke Baubau menggunakan iizn IPKR di Tungkuno, seolah-olah kayu itu berasal dari kebun masyarakat di desa Tombula, Kecamatan Tungkuno.

Yang jelas, legalitasnya, dibuat oleh pejabat penerbit dokumen SKSKB yakni La Zakiri, kemudian dilampirkan dilampirkan DKB atau daftar kayu bulat yang ditandatangani oleh pemilik izin, La Mogo dan pejabat penerbit izin, La Zakiri.

Kemudian, Kasubdin Perdaran Dishut Muna, Nestor Djono, memberikan pertimbangaan teknis untuk keperluan rekomendasi.

Selanjutnya pejabat pengelola dokumen menerbitkan dokumen dan terakhir setelah matang, diajukan ke Kadishut, Drs La Ode Mukadimah, untuk penandatanganan rekomendasi angkutan. Maka meluncurlah kayu itu ke Baubau.

Sesuai aturan, kayu yang berasal dari cagar alam tidak bisa dilelang sebagaimana perlakukan kayu temuan yang berasal dari hutan produksi.

Menurut aturan yang berlaku kayu berasal dari cagar alam maka harus dimusnahkan, tidak bisa dilelang dan uangnya diambil oleh negara.

Normatifnya, kayu masyarakat sebanyak tiga batang dengan panjang empat meter paling rata-rata hanya setara dengan satu kubik.

Maka kalau ada tiga batang dengan panjang empat meter paling rata-rata hanya setara dengan satu kubik.

Maka kalau ada kayu tiga batang dengan panjang 6 meter bernilai 9 kubik, maka sudah itu berasal dari hutan kawasan, hutan lindung atau cagar alam.

Itulah yang membuat Bagian Konservasi Sumber Daya Alam di Dishut Baubau curiga. Memang dokumennya lengkap, tapi kayunya mencurigakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: