Pemantau Tsunami Tidak Berfungsi

Kompas 2009-09-03/Halaman E-Paper 13 Lingkungan

Jakarta – Sejumlah teknologi menggunakan buoy pemantau tsunami di laut yang dipasang pascagempa dan tsunami di Aceh akhir 2004 lalu hingga sekarang tidak berfungsi.

Buoy itu rusak terkena badai dan sebagian lagi kelengkapan peralatannya hilang, dikhawatirkan karena dicuri.

”Peringatan dini terhadap tsunami akibat gempa bumi sampai saat ini hanya berdasarkan data kegempaan, bukan pemantauan perilaku laut,” kata Kepala Program Buoy Tsunami Indonesia Ridwan Djamaluddin, Rabu (2/9) di Jakarta.

Gempa bumi berkekuatan 7,3 pada skala Richter (SR), Rabu (2/9), terjadi pada pukul 14.55, berpusat di kedalaman 30 kilometer pada lokasi 142 kilometer sebelah barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyampaikan peringatan dini tsunami, tetapi berselang satu jam kemudian dinyatakan tidak ada tsunami.

Secara terpisah, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Fauzi mengatakan, tsunami dalam skala kecil terpantau di tiga lokasi pantai di Jawa Barat. Tsunami itu merupakan dampak gempa bumi yang terjadi.

”Tsunami yang terpantau di Pameungpeuk dengan ketinggian 1 meter, di Pangandaran 20 sentimeter, dan di Palabuhan Ratu 15 sentimeter,” ujar Fauzi.

Data kegempaan

Selama pemantau tsunami di laut belum berfungsi, penentuan tsunami hanya berdasarkan data kegempaan.

Prasyarat itu meliputi kekuatan gempa di atas 6,4 skala Richter, pusat gempa lebih dangkal dari 60-70 kilometer di bawah laut, ada kecukupan kolom air, dan gerakan patahan bumi vertikal,

Menurut Ridwan, data perilaku laut yang semestinya dapat segera dikirimkan sinyalnya dari buoy (pelampung) itu adalah panjang gelombang laut yang ekstrem.

Data tersebut dapat diperoleh seketika di stasiun pemantau di darat. Data lalu dapat dimanfaatkan sebagai pertimbangan peringatan dini tsunami oleh BMKG.

”Peralatan buoy tsunami sudah dipasang di selatan Selat Sunda. Mestinya sudah dapat memberikan informasi potensi tsunami dari data perilaku laut. Namun, buoy di sana rusak karena terkena badai,” kata Ridwan.

Sebanyak empat buoy tsunami bantuan Jerman juga dipasang di sebelah barat Sumatera. Menurut Ridwan, data dari buoy Jerman itu sekarang belum bisa dimanfaatkan Indonesia, baru Jerman yang bisa mengaksesnya.

Mengenai sejumlah teknologi pemantau tsunami di laut yang tidak berfungsi lainnya, antara lain dua buoy tsunami bantuan Amerika Serikat yang dipasang di selatan Selat Bali dan sebelah barat Sumatera. Kondisi buoy ini sebagian alatnya hilang, dikhawatirkan dicuri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: