Dukungan Perang bagi Negara Miskin

Kompas 2009-09-02/Halaman 12  E-paper Lingkungan

Geneva – Negara berkembang membutuhkan 600 miliar dollar AS per tahun dengan dukungan negara maju, seperti masa perang, untuk menghadapi ancaman perubahan iklim.

Demikian terungkap dalam laporan PBB yang disampaikan Selasa (1/9) di Geneva, Swiss, di tengah konferensi perubahan iklim.

The World Economic and Social Survey menyerukan ”Kesepakatan Keberlanjutan Global” untuk mengatasi ”kesengsaraan tak perlu” dan membuat perkiraan dana sekitar 21 miliar dollar AS untuk beradaptasi dan mengatasi perubahan iklim.

Transformasi itu membutuhkan ”suatu tingkat dukungan internasional dan solidaritas yang jarang tampak, kecuali saat perang”—demikian hasil survei menyebutkan.

”Apa yang kita perdebatkan adalah pemberian uang untuk rencana perang menghadapi perubahan iklim dan pembangunan,” ujar pembuat laporan, Richard Kozul-Wright.

”Angka yang muncul adalah 1 persen dari produk domestik bruto, antara 500 miliar AS hingga 600 miliar AS per tahun untuk mempercepat peralihan ke energi bersih,” tutur seorang ahli ekonomi PBB.

Pada Desember mendatang para pemimpin dunia akan bertemu di Kopenhagen, Denmark, untuk membicarakan kesepakatan tentang rezim baru pengganti Protokol Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada 2012.

Tujuan utama adalah mendesak negara maju mengurangi emisi karbon dalam jumlah besar dan komitmen membantu negara-negara berkembang.

”Ini merupakan ancaman sistemik,” ujar seorang ahli ekonomi senior PBB. Menurut laporan tersebut, upaya tambahan berbasis pasar, seperti perdagangan karbon, tidak cukup.

Yang dibutuhkan, yaitu cara memburu pertumbuhan ekonomi yang simultan dengan upaya mengurangi emisi karbon. Investasi pada dekade mendatang membutuhkan transisi berkelanjutan menuju energi bersih di negara berkembang dan secara bertahap membantu mereka menghadapi perubahan iklim.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan, ”Pemikiran untuk membekukan ketidakseimbangan global pada separuh abad ke depan saat dunia berupaya memecahkan problem perubahan iklim secara ekonomis, politis, dan etis tak dapat diterima.

” Dia menegaskan, sementara dunia pada tahun 2050 harus bisa mengurangi emisi karbonnya hingga 50-80 persen dari emisi tahun 1990, produksi energi negara berkembang menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan negara maju.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: