Asap Terus Selimuti Palangkaraya

Kompas 2009-08-31/Halaman 22 E-paper Nusantara

Palangkaraya – Meski larangan pembakaran lahan kembali diberlakukan dan beragam upaya pemadaman, termasuk hujan buatan, dilakukan, asap akibat kebakaran lahan masih menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Minggu (30/8), asap menyelimuti Palangkaraya sejak pagi dan tidak ada tanda-tanda menipis meski hari beranjak siang.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pemadam Kebakaran Kota Palangkaraya Wawan Berlison mengatakan, selama Agustus rata-rata sehari masuk tiga laporan kebakaran lahan di ibu kota Provinsi Kalteng itu.

”Dari 10 Agustus hingga akhir bulan, ada 23 kasus kebakaran lahan di Palangkaraya dengan luas rata-rata 1 hektar,” kata Wawan.

Merebaknya titik panas dan kebakaran lahan serta dampaknya berupa kabut asap mendorong Gubernur Kalteng mengumumkan siaga darurat pengendalian kebakaran hutan, lahan, dan pekarangan, Jumat.

Semua unsur Pemerintah Provinsi Kalteng, pemerintah kabupaten/kota se-Kalteng, dunia usaha, dan masyarakat diminta mematuhi kebijakan stop kebakaran, stop asap, dan stop bencana.

Posko pengendalian kebakaran, mulai dari pemerintah provinsi hingga kelompok masyarakat pengendali kebakaran di tingkat desa, diaktifkan untuk mencegah dan memadamkan kebakaran lahan.

Pelaksanaan hujan buatan untuk sementara dihentikan karena pesawat dalam perbaikan.

Menurut anggota staf Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Tri Handoko Seto, pesawat baru bisa digunakan sekitar Kamis.

Di Kalimantan Selatan, kebakaran lahan parah terjadi di Kabupaten Tapin. Kawasan pertanian rawa di daerah Margasari terbakar hebat. Namun, tidak ada warga maupun petugas yang memadamkan. Setidaknya ada 10 titik panas di wilayah itu.

Di Jambi, PT Angkasa Pura menutup Bandar Udara Sultan Thaha hingga dua kali pada Minggu (30/8). Gangguan asap menyebabkan jarak pandang terlalu pendek. Asap berasal dari kebakaran lahan di Sumatera Selatan.

Pengelola menutup bandar udara pada pukul 06.25 dan pada pukul 08.55. Jarak pandang mencapai 500-700 meter. Padahal, normalnya 1.800 meter.

Akibatnya, pesawat Garuda dari Jakarta yang semestinya mendarat pukul 07.40 tertunda hingga pukul 08.06.

Begitu pula Mandala yang mestinya mendarat pukul 10.00, tertunda tiba pukul 11.47. Lion Air dari Jakarta dialihkan ke Batam dan baru menuju Jambi setelah jarak pandang membaik.

”Jarak pandang sejak pagi sangat rendah. Kami terpaksa menutup bandar udara sementara. Setelah pukul 11.00, kondisi membaik,” kata Basuki Mardianto, General Manager PT Angkasa Pura II Bandar Udara Sultan Thaha.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Provinsi Jambi RL Tobing menyatakan, rendahnya jarak pandang disebabkan temperatur yang rendah dan kelembaban yang tinggi, bercampur dengan partikel debu akibat asap kiriman dari Sumatera Selatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: