Lingkungan, 2009-08-29 KRISIS Teluk Kendari

Link090829 Krisis Teluk Kendari

KRISIS Teluk Kendari

Teluk Kendari saat ini mengalami krisis. Saatnya penyelamatan dengan cara ekstrim, jika tidak maka “sisa cairan” teluk hari ini pun akan menjadi daratan.

TELUK Kendari tak dapat dipisahkan dengan awal keberadaan Kota Kendari yang menjadi ibukota Provinsi Sulawesi Tenggara, saat ini. Di teluk inilah semuanya berawal. Tradisi lisan menyebutkan, nama Kendari berasal dari bahasa Tolaki yakni kandai (tukong), artinya alat dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk mendorong perahu di tempat yang airnya dangkal. Di teluk Kendari inilah aktivitas transportasi laut penduduk menggunakan alat kandai, selain menggunakan dayung dan layar. Kandai kemudian diabadikan menjadi nama kampung, kini sudah menjadi Kelurahan Kandai yang berada di awal pusat Kota Kendari yang terletak di wilayah Kecamatan Kendari (Kota Lama).

Letak geografis Kota Kendari ibarat wajan —tempat penggorengan. Di tengah-tengah terdapat teluk, sementara di sisi utara, barat, selatan terdapat ketinggian. Di sisi utara ada pegunungan Nipanipa, sementara di sisi selatan ada pegunungan Nanga-nanga. Demikian pula di sebelah barat, Mandonga dan Wua-wua adalah pemukiman yang posisinya lebih tinggi. Sebutlah contoh posisi Rumah Jabatan Gubernur Sultra di Jl. La Ute, karena posisinya yang ketinggian maka dapat melihat ke bawah, teluk, dengan jelas. Demikian pula dari sisi ketinggian di sebelah utara dan selatan teluk tentunya.

Karena posisi demikianlah sehingga erosi yang terjadi dari sisi utara, barat dan selatan semuanya bermuara pada pusat teluk yang pada gilirannya menyebabkan pendakangkalan Teluk Kendari. Laju pendakalan di Teluk Kendari semakin memprihatinkan seiring pertambahan aktivitas manusia yang bermukim di sekitarnya.

Dulu, waktu Teluk Kendari belum mengalami degradasi seperti sekarang, keberadaan ditinjau dari sisi sosial ekonomi sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar khususnya para nelayan yang bisa mencari ikan dan biota laut lainnya. Banyak jenis kerang bakau dan kepiting yang selalu dicari masyarakat untuk dikonsumsi. Sayangnya, kondisi itu telah berubah fungsi, dari tempat mencari hasil laut oleh masyarakat menjadi tempat pembuangan sampah paling besar dan fantastis, selain erosi yang terjadi secara alamiah. Hal ini sebagai konsekwensi perkembangan penduduk dan kemajuan Kota Kendari.

Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara menyebutkan dalam kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan di Teluk Kendari seluas 101,8 hektar dan kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter. Luasan wilayah teluk ini menyusut dari semula 1.186,2 hektar menjadi 1.084,4 hektar pada tahun 2000.

Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 152,08 hektar merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 357.810,59 ton/ tahun. Selain itu, menurut dokumentasi institusi teknis Dinas Kehutanan Provinsi Sultra, terdapat 10 hingga 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari. Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi, misalnya Sungai Benubenua (DAS) 21,00 Km2, Sungai Lahundape (DAS) 16,00 Km2, Sungai Mandonga (DAS) 18,00 Km2 Sungai Sodoha (DAS) 20,00 Km2, Sungai Tipulu (DAS) 12,00 Km2 serta Sungai Wuawua, Kemaraya, Anggoeya, dan Sungai Kampungsalo.

Sumbangsi sedimentasi juga datang dari aktivitas di dermaga yang ada dalam kawasan teluk. Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan kapal pada teluk Kendari. yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapalkapal berskala besar setiap saat, termasuk persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila, yang melayanai kawasan timur Pulau Sulawesi. Selain itu, ada pula Pelabuhan Ferry penyeberangan dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal perikanan laut swasta. Dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogyanya bisa membaik, namun Teluk Kendari tak lepas dari masalah.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Haluoleo telah memprediksi sedimentasi itu sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/tahun dengan laju pendangkalan 0,207 m/tahun. Hal itu yang membuat kondisi Teluk Kendari semakin memprihatinkan. Lembaga ini juga memperkirakan dalam 10 tahun mendatang kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar.

Aktivitas di sekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung maupun tidak langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama aktivitas yang tidak ramah lingkungan seperti penebangan kayu maupun anakan kayu di hutan, pertambangan pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak maupun industri dan pertokoan. Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal mangrove yang dulu masih luas kini semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara lain pembukaan tambak, pembangunan galangan kapal, pembangunan SPBU dan pembangunan kawasan pertokoan.

Setiap tahun terjadi pengurangan vegetasi mangrove secara drastis. Pada tahun 1960-an luas vegetasi mangrove di sekitar Teluk Kendari mencapai 543,58 ha, tahun 1995 menurun hingga tersisa 69,8 ha, dan tahun 2005 menurun lagi hingga tersisa tinggal 40%.

Pemerintah Provinsi Sultra tengah merancang sebuah program untuk menjadikan Teluk Kendari sebagai tempat olahraga air kelas dunia. Dinas Pekerjaan Umum (PU) Sultra ditunjuk untuk merancang program ini. Kepala Dinas PU Sultra Dody Djalante menjelaskan program ini dilakukan bersamaan dengan dibangunnya dua mega proyek pada Teluk Kendari, yakni jembatan penghubung (Kota Lama dengan Lapulu) dan masjid terapung di atas permukaan laut. “Program ini akan kami wujudkan, demi menjadikan Teluk Kendari sebagai icon Sulawesi Tenggara ke depan,” ujarnya kepada wartawan belum lama.

Dody menjelaskan, sejak dimulainya pembangunan Pelabuhan Kontainer Bungkutoko, maka rancangan menjadikan teluk Kendari sebagai tempat olahraga air kelas dunia mulai digaungkan. Jika Pelabuhan Kontainer Bungkutoko rampung, maka lalu lintas kapal barang sudah pasti tidak akan masuk Teluk Kendari. “Inilah alasan mengapa Teluk Kendari bakal dijadikan olahraga air kelas dunia,” jelasnya seraya menambahkan, program ini bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kendari.

Di luar itu Pemerintah Kota Kendari mempunyai kebijakan sendiri berupa pengerukan endapan teluk dengan menyediakan anggaran sebesar Rp. 5 miliar lebih. Sayangnya hingga kini belum ada aksi memadai, padahal sudah dianggarkan sejak setahun lalu. Hal ini menambah kecurigaan pihak-pihak yang meragukan sejak awal akan program tersebut, seperti diungkapkan Direktur Eksekutif LEpMIL – Sultra, M. Alim Nur bahwa proyek Pemkot itu tidak akan optimal. (Baca juga: Pengerukan yang Sia-sia?)

Pemicu bertambahnya pendangkalan karena konversi kawasan hutan mangrove menjadi lahan tambak. Selain itu, perkembangan pemukiman di sekitar teluk tidak terkontrol, serta belum adanya kejelasan tata ruang dan rencana pengembangan wilayah pesisir Teluk Kendari. Akibatnya, terjadinya tumpang tindih pemanfaatan kawasan pesisir untuk berbagai kegiatan pembangunan. Masalah lain, adanya temuan pencemaran logam berat seperti Merkuri (Hg) dan Cadmium (Cd) di sekitar Teluk Kendari dengan kadar tinggi sehingga mengganggu kelangsungan biota laut, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Warga kota yang berdiam di lereng gunung baik penduduk lama maupun pendatang baru dibiarkan merambah hutan untuk lokasi perumahan dan kebutuhan hidup lainnya. Secara semena-mena juga para pemilik modal menggusur perbukitan di beberapa ruas jalan utama, masih di kaki pegunungan Nipanipa, untuk kepentingan investasi di bidang properti yaitu bisnis rumah toko (Ruko).

Tindakan tersebut merupakan salah satu penyebab pendangkalan teluk. Kerusakan hutan di pegunungan Nipanipa sehingga menyebabkan terjadinya erosi yang membawa lumpur, pasir, sampah dan limbah rumah tangga, serta berbagai material lainnya ke Teluk Kendari. Sisa-sisa lumpur dan pasir dari kegiatan penggusuran bukit juga segera dihanyutkan banjir ke teluk pada musim hujan.

Selain itu kegiatan pemerintah sendiri yang mempercepat lajunya sedimentasi adalah pembangunan jaringan jalan, terutama ruas-ruas jalan yang berlokasi di bibir pantai teluk. Pembangunan jalan tersebut diawal dengan pengerukan rawarawa dan empang milik penduduk. Lahan tersebut sebelumnya merupakan hutan bakau.

Jalur lain yang menjadi kontributor penyusutan Teluk Kendari menjadi daratan adalah jaringan sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk itu. Jaringan sungai tersebut membawa lumpur, pasir, dan material lainnya ke teluk pada saat banjir di musim hujan.

Sebagian sungai di Kota Kendari telah menjadi sungai mati, dan baru berair serta banjir bila musim hujan datang. Hal itu membuktikan parahnya kerusakan hutan di daerah tangkapan hujan (catchment area) dalam ekosistem DAS (daerah aliran sungai). DAS terbesar di kawasan teluk adalah DAS Wanggu dengan luas wilayah 32.389 hektar. Wilayah DAS ini membentang dari pegunungan Boroboro, Wolasi hingga Teluk Kendari yang mencakup tiga kecamatan dalam wilayah Kabupaten Konawe serta dua kecamatan di Kota Kendari sendiri. Karena itu dibutuhkan kebijakan terpadu pemerintah kabupaten dan kota untuk memulihkan kerusakan DAS tersebut.

Melihat krisis Teluk Kendari yang memprihatinkan sekarang sudah saatnya pemerintah daerah, baik Pemkot maupun Pemprov, mengambil langkah ekstrim demi penyelamatan ikon kota tersebut. Selain melakukan pengerukan, tak kalah penting adalah penanaman kembali pohon bakau dan mangrove di sekitar teluk serta sosialisasi yang komprehensif kepada masyarakat tentang larangan membuang sampah di teluk ini. Jika tidak maka jangan heran jika nama Teluk Kendari kelak tinggal menjadi dongeng pengantar tidur bagi anak cucu kita. Sepakat! (m djufri rachim)
.

Pengerukan yang Sia-sia?

KOTA Kendari terkenal dengan kehijauan hutan yang menempel pada dinding pegunungan Nipanipa dan perairan teluk yang tenang tak berombak. Sudah banyak upaya pemerintah Kota Kendari untuk mengatasi pendangkalan di teluk tersebut. Di usia yang se-abad lebih, kondisi teluk itu memang sangat memprihatinkan.

Banyak pihak berupaya merehabilitasi kembali kondisi teluk ini, namun sampai saat ini tak ada tanda-tanda keberhasilan yang nampak dari usaha panjang tersebut. Kini, usaha yang sama muncul kembali dari keinginan Pemkot untuk mengeruk “kotoran” dalam Teluk kendari.

Kebijakan pemerintah Kota Kendari untuk melakukan pengerukan Teluk Kendari tidak main-main. Telah menyediakan anggaran sebesar Rp. 5 miliar lebih. Anggaran sebesar itu untuk pengadaan peralatan penyedotan berupa vibro 10 ton dan escavator Pc 200. Anggaran untuk mendatangkan alat vibro 10 ton sebesar Rp 800 juta dan escavator Rp 1,4 Milliar. Sedangkan alat lainnya berupa tambahan satu penyedot lumpur berdiameter 10 cm dengan pagu anggaran Rp 1,3 milliar, lalu 2 unit dum truk Rp 540 Juta, dan mobil tronton Rp 890 Juta.

Sayangnya kendati sudah dianggarkan besarbesaran sejak tahun lalu, hingga kini belum ada aksi pengerukan di Teluk Kendari. Masih jalan di tempat. Memang program ini sejak awal sudah banyak yang meragukan, utamanya dari kalangan LSM lingkungan. Mereka menilai program pengerukan tersebut akan sia-sia jika sumber penyebab pendangkalan tidak terlebih dahulu diatasi. Misalnya melalui kebijakan yang meredam aktivitas pengrusakan kawasan DAS yang bermuara ke Teluk Kendari dan menghentikan pemberian perizinan bagi sektor usaha apapun di sekitar Teluk Kendari.

Penggiat lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Sultra, Ismalik Ohasi mengatakan, penanganan Teluk Kendari tetap kurang optimal akibat tidak adanya sinergisitas antar instansi terkait, termasuk minimnya alokasi dana pengelolaan Teluk Kendari. Pernyataan serupa dikemukakan oleh Direktur Eksekutif LEpMIL – Sultra, M. Alim Nur, “Tak akan optimal.” Menurutnya, dalam program jangka pendek, pengerukan memang penting, namun untuk jaminan keberlanjutan, jalan penyelesaiannya mesti dengan mengatasi asal-usul pendangkalan itu sendiri.

Penyelamatan Teluk Kendari memang rumit dan dilematis. Paling sedikit ada 12 sungai dan anak sungai yang bermuara di teluk itu. Sungai yang dalam ketegori besar adalah Sungai Sadohoa, Wanggu, Kambu, dan Sungai Anggoeya. Jaringan sungai dan anak sungai tersebut puluhan tahun silam masih berfungsi sebagai sarana transportasi hingga ke pedalaman pinggiran kota.

Akibat proses degradasi lahan dan hutan di daerah hulu sungai-sungai tersebut, justru secara perlahan membawa petaka di Teluk Kendari. Banjir besar yang mendera Kota kendari, tentu bukanlah sekedar ‘kado’ musim hujan bagi masyarakat kota, tapi lebih pada peringatan yang datang setiap tahunnya.

Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Maritim Kendari Ade Setiadi mengungkapkan, Teluk Kendari nyaris menjadi perangkap bagi kapal-kapal besar. Pasalnya, mulut teluk yang berhadapan dengan Laut Banda relatif sempit sehingga menyulitkan kapal besar untuk keluar-masuk. Alur sempit itu diperpanjang Pulau Bungkutoko yang terletak tepat di mulut teluk. Karena itu, setiap kapal berukuran di atas 3.000 DWT membutuhkan gerakan zig-zag untuk mencapai perairan lebih luas dan selanjutnya mencari tempat berlabuh di perairan pelabuhan. (m djufri rachim)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: