Kebun Sawit Percepat Sedimentasi Danau

Kompas 2008-08-28/Halaman 22 Nusantara

Pontianak – Laju sedimentasi di Taman Nasional Danau Sentarum dalam setahun terakhir diperkirakan mencapai 25 sentimeter.

Hal ini meningkat lima kali dibandingkan periode sebelumnya yang hanya 2-5 sentimeter per tahun.

Demikian disampaikan Kepala Balai Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) Soewignyo di Pontianak, Kamis (27/8).

” Pembukaan lahan di sekitar TNDS untuk perkebunan kelapa sawit sejak tahun 2008 memicu percepatan sedimentasi Danau Sentarum. Kedalaman danau saat ini 10-14 meter. Diperkirakan, 50 tahun mendatang danau akan tertutup sedimentasi,” katanya.

Luas TNDS 132.000 hektar, terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Sebanyak 89 persen dari areal TNDS berupa danau, sisanya hutan dan perkampungan penduduk.

Danau yang berada di hulu Sungai Kapuas ini berfungsi sebagai bendungan alami yang mampu menampung air 16 triliun meter kubik per tahun.

Saat ini ada 12 perusahaan yang memiliki konsesi perkebunan sawit di sekitar TNDS, 6 di antaranya berbatasan langsung dengan kawasan TNDS.

Tiga perusahaan perkebunan sudah mulai membuka lahan hingga 2.500 hektar. Total luas kebun sawit di sana ratusan ribu hektar.

Jika pembukaan lahan sawit tak dihentikan dan laju sedimentasi danau tak ditekan, menurut Soewignyo, bisa terjadi banjir besar yang melanda Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas.

Potensi bencana tidak hanya dirasakan warga di hulu sungai, tetapi juga di sepanjang DAS Kapuas yang bermuara di Kota Pontianak.

Panjang DAS Kapuas 1.086 kilometer, melewati 6 dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, yakni Kabupaten Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, Kubu Raya, dan Kota Pontianak.

Data Balai Pengelolaan DAS Kapuas menunjukkan, dari 10,15 juta hektar areal DAS Kapuas, 2,2 juta hektar di antaranya kritis.

Warga tujuh kampung di hulu Sungai Kandilo dan Sungai Telake, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur, menetapkan 61.000 hektar hutan mereka sebagai hutan adat.

Inisiatif itu diambil untuk menyelamatkan hutan dari kehancuran akibat perluasan hutan tanaman industri, perkebunan kelapa sawit, dan pertambangan. Hal itu dikatakan Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Timur Isal Wardhana di Samarinda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: