Perambahan Hutan Tak Terkendali

Kendari Pos 2009-08-26/Halaman 5 Bumi Anoa

Kolaka– Berdasarkan penuturan Kadis Kehutanan Raha bahwa terjadi peningkatan aktivitas perusakan hutan di Desa 19 November, Wundulako.

Pasalnya, lokasi perusakan hutan merupakan areal hutan lindung kawasan kilometer November yang nantinya merupakan areal perkebunan yang mencapai 20 ha. Perkiraan ini berdasarkan dari jumlah 20 kepala warga yang membuka lahan perkebunan dengan luas areal minimal satu hektar.

Kemarin, sekitar 20 KK perambah hutan yang merupakan perambah hutan, yang umumnya berasal dari pendatang Sulawesi Selatan untuk sekian kalinya dipanggil, dan diberi peringatan agar menghentikan perambahan. Bahkan upaya penegakan hukum sudah dilakukan, namun aktivitas penebangan masih saja berlangsung.

“Beberapa waktu lalu 11 perambah sudah dipenajara, tapi belum jugsa memberikan efek jera bagi yang lain. Justru pantauan kami, sejak ini hari hutan yang dirambah kian luas, karena penduduk disekitar hutan juga terus bertambah” ungkap Rahim.

Parahnya, selain berkebun beberapa warga juga mulai membangun rumah. Dihadapan 20 KK yang hadir di kantor Kehutanan, Ia juga mengancam, dan akan memberikan sanksi hukum pada warga yang masih saja melakukan perambahan hutan.

Modus operandi perambahan hutan cukup beragam. Misalnya saja, seorang cukong memberikan lahan kepada seorang warga yang mau mengolah menjadi lahan perkebunan, dengan perjanjian telah berhasil hasilnya dibagi dua. Adapula oknum yang menjual lahan tersebut adalah warga pendatang.

Rahim mengakui keterbatasan personil, polisi kehutanan yang hanya berjumlah 29 orang menjadi kendala bagi instansinya untuk melakukan pengawasan maksimal terhadap kawasan hutan lindung yang ratusan ribu hektar.

Selain menertibkan perambahan liar dikawasan hutan lindung dikili meter 16, saat ini tim gabungan kehutanan, saat ini TNI dan Polri saling bekerjasama untuk melakukan pengawasan perambahan hutan dan illegal logging disekitar hutan lindung Sakuli.

Pasalnya di wilayah itu, aktivitas illegal logging saat ini semakin merajalela, dan membahayakan sumber air PDAM yang ada disungai tersebut.

Ditempat yang sama, Daeng Tata merupakan salah satu warga perambah hutan, diberi peringatan oleh dinas kehutanan, mengakui bahwa lahannya berada diluar kawasan hutan lindung yang ditentukan.

Tapi dirinya tidak menampik, jika ada rekan-rekannya yang membuka lahan di kawasan hutan lindung. Titeng juga mengakui telah bermukim, dan membuka lahan kebun sejak tahun 2003 lalu yang dibeli melalui warga pribumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: