Minta Ditanggul, Laut Hanya ditimbun Terus

Kendari Pos 2009-08-24/Halaman13 Metro Kendari

Eko Mardiatmo

Letaknya disepanjang mulut teluk Kendari, membuat kelurahan Kendari Caddi terlihat eksotis. Setiap kapal yang akan berlabuh di pelabuhan Nusantara atau pelabuhan tradisional lainnya, pasti melintasi kawasan Kendari Caddi.

Tak pelak menambah nilai kawasan estetika kelurahan yang bersebrangan laut dengan kelurahan Lapulu itu.

Mungkin bagi penduduk sekitar hal tersebut adalah hal yang biasa, pasalnya mereka menetap disitu hingga sudah sangat hapal dengan kondisi kampungnya.

Saking hafalnya, mereka sangat marhum bahwa llingkungan kelurahan yang dibentengi (Taman Hutan Rakyat) Tahura Murhum dari sisi uata dan laut dari sisi selatannya itu, rentan terhadap bahaya.

Bahaya yang pertama datang dari Tahura Murhum. Hutan yang meiputi Kabupaten Konawe dan Kota Kendari itu, sudah sangat tua, dan botak.

Hampir tidak ada peremajaan tanaman hutan di Tahura. Parahnya, penebangan masih saja terus terjadi. Akibatnya daerah peresapan aiar berkurang. Kondisi itu sangat berbahaya bila musim penghujan tiba. Air bah bisa tiba-tiba datang dari atas gunung.

Dari arah laut, bahaya yang mengancam tidak teramat besar. Hal itu karena letak kelurahan Caddi tepat berada di sisi dalm Teluk Kendari sehingga terkesan aman dari gelombang. Toh bukan berarti daerah tersebut bebas dari bahaya abrasi gelombang laut.

Menurut Ketua RW 02 Kelurahan Caddi Kendari, Yahya Mollah, menjabarkan kondisi Kendari Caddi. Daratan Kendari Caddi sempat tergerus air laut hingga beberapa meter.

Kondisi itu, disikapi sendiri oleh masyarakat dengan menimbun hingga ke laut.  Untuk beberapa lama kondisi tersebut bisa membuat penduduk nyaman.

Sayangnya, penimbun semakin tidak terkendali. Tanah timbunan masyaraakt sudah semakin menjorok ke laut. Kondisi ini, sangat rentan terhadap bahaya.

Karena itu, sejak tahun 1967, saat gubernur Sultra masih dijabat Edi Sabara. Sudah diusulkan pembangunan tanggul. Tanggul tersebut diusulkan dibangun dari batas akhir tanggul yang dibangun PT Dharma Samudra Fisihing Industries hingga perbatasan terakhir kelurahan Kendari Caddi dengan kelurahan Kenadri di pelabuhan rakyat.

Tapi sayang, meski sudah diusulkan sampai empat kali, pergantian gubernur Sultra tidak pernah ada beberapa keuntungan yang diperoleh dengan pembangunan tanggul yang diprediksi sepanjang 700 meter itu.

Selain dianggap mampu menghentikan penimbunan laut, juga mampu mengurangi resiko bahaya abrasi.

Pemerintah Kendari Caddi, juga sudah bisa melatrang membuang sampah di laut lagi. Selain itu, penataan pembangunan Kendari Caddi juga sudah bisa di mulai.

Ibrahim R, salah satu warga menambahkan, sebenarnya sudah pernah ada upaya pembuatan tanggul oleh TNI AD.

Hal itu karena TNI AD memiliki tanah di kelurahan Kendari Caddi. Tapi sayang, tanggul tersebut tidak bertahan lama karena tergerus aiar laut.

Yahya, kemudian menunjukkan lokasi yang dimaksud Ibrahim. Kondisinya memang miris, batu berukuran besar sudah berserakan ke laut. Tanggul yang dibangun di RW 02 itu sudah tidak berbentuk lagi.

Akibatnya, tanah yang terletak di samping gudang penampungan hasil bumi tersebut rawan longsor.

“Kalau begini kan bahaya”, jelasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: