Lembar Informasi 2009-08 Teluk Kendari

FS0908 Teluk Kendari

Tentang Teluk Kendari

Sedikitnya terdapat empat dermaga pelabuhan serta satu galangan kapal pada teluk Kendari. yaitu, Pelabuhan Nusantara yang dikunjungi kapal-kapal berskala besar setiap saat, termasuk persinggahan kapal Pelni, KM Tilongkabila yang melayani kawasan timur Pulau Sulawesi. Selain itu, ada pula Pelabuhan Ferry penyeberangan dari Kota Kendari-Pulau Wawonii, pelabuhan Perikanan Samudera dan Pelabuhan Pendaratan kapal penangkap ikan serta pangkalan kapal-kapal perikanan laut swasta.dengan potensi sebanyak itu, perekonomian seyogyanya bisa membaik. Tapi, Teluk Kendari tak lepas dari masalah, kini pendangkalan laut yang disebabkan sedimentasi serius menjadi tantangan bagi pengembangan Teluk Kendari.

Seberapa parah pendangkalannya?

Dengar pendapat dengan DPR-RI (Komisi IV tahun 2004) menunjukkan indikasi pendangkalan yang makin parah. Hasil penelitian Balai Penelitian Daerah Aliran Sungai (BP-DAS) Sampara bahkan merujuk luasan wilayah Teluk Kendari menyusut dari semula 1.186,2 hektar  menjadi 1.084,4 hektar pada 2000. Berarti dalam kurun waktu 13 tahun terakhir terjadi pendangkalan seluas 101,8 hektar dan kedalaman laut berkisar 9 meter sampai 10 meter.

Sungai Wanggu yang menguasai Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 152,08 hektar merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 357.810,59 ton/tahun. Selain itu, terdapat 10 hingga 18 sungai yang bermuara di Teluk Kendari (dokumentasi Institusi teknis Dinas Kehutanan Provinsi Sultra)

Selain Sungai Wanggu, sungai lain juga ikut berkontribusi, misalnya Sungai Benubenua (DAS) 21,00 Km2, Sungai Lahundape (DAS) 16,00 Km2, Sungai Mandonga (DAS) 18,00 Km2 Sungai Sodoha (DAS) 20,00 Km2, Sungai Tipulu (DAS) 12,00 Km2 serta Sungai Wua-wua, Kemaraya, Anggoeya, dan Sungai Kampungsalo.

Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Unhalu telah memprediksi sedimentasi itu sejak tahun 2003. Mereka menyebutkan Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi sekitar 1.330.281 m3/tahun dengan laju pendangkalan 0,207 m/tahun itu yang membuat kondisi Teluk Kendari semakin memprihatinkan. Lembaga ini juga memperkirakan dalam 10 tahun mendatang kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar.

Penyebab Pendangkalan Teluk Kendari

Aktivitas disekitar DAS yang bermuara ke Teluk Kendari secara langsung maupun tidak langsung menjadi kontributor terbesar pendangkalan teluk. Terutama aktivitas yang tidak ramah lingkungan antara lain penebangan kayu maupun anakan kayu dihutan, pertambangan pasir, serta konversi kawasan mangrove menjadi tambak maupun industri dan pertokoan. Secara kasat mata dapat disaksikan bagaimana areal mangrove yang dulu masih luas kini semakin sempit oleh berbagai jenis usaha antara lain pembukaan tambak, pembangunan galangan kapal, pembangunan SPBU dan pembangunan kawasan pertokoan. Berdasarkan berita yang dilansir melalui Koran kendari ekspres pada tanggal 17 Januari 2007, dari tahun ketahun terjadi pengurangan vegetasi mangrove secara drastis.

Pada tahun 1960-an luas vegetasi mangrove disekitar teluk kendari mencapai 543,58 ha, tahun 1995 menurun hingga tersisa 69,8 ha, tahun 2005 menurun lagi hingga tersisa tinggal 40%.

Sehingga kebijakan pemerintah kota kendari untuk melakukan pengerukan dengan menyediakan anggaran sebesar 1,5 miliar (www.kendarikota.co.id) akan menjadi sia-sia apabila sumber penyebab pendangkalan teluk kendari tidak terlebih dahulu di atasi. Tentunya dengan kebijakan yang bisa efektif untuk meredam aktivitas pengrusakan kawasan DAS yang bermuara ke teluk kendari dan menghentikan pemberian perijinan bagi sector usaha apapun disekitar teluk kendari.

Penggiat lingkungan Wahana Lingkungan Hidup Sultra, Ismalik Ohasi mengatakan, penanganan Teluk Kendari tetap kurang optimal akibat tidak adanya sinergisitas antar instansi terkait, termasuk minimnya alokasi dana pengelolaan Teluk Kendari. Pemicu bertambah karena konversi kawasan hutan mangrove menjadi lahan tambak. Selain itu, perkembangan pemukiman di sekitar teluk tidak terkontrol, serta belum adanya kejelasan tata ruang dan rencana pengembangan wilayah pesisir teluk Kendari. Akibatnya, terjadinya tumpang tindih pemanfaatan kawasan pesisir untuk berbagai kegiatan pembangunan. Masalah lain, adanya temuan pencemaran logam berat seperti Merkuri (Hg) dan Cadmium (Cd) disekitar Teluk Kendari dengan kadar tinggi sehingga mengganggu kelangsungan biota laut, seperti ikan dan kerang-kerangan.

Untuk informasi lebih lanjut
Hubungi :

Yayasan Pengembangan, Studi Hukum dan Kebijakan
Jl. Kolopua  No. 3  Kel. Tipulu, Kota
Kendari – Sulawesi Tenggara
Tlp/Faks.0401. 3124403

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: