DAS Brantas Terancam

Kompas 2009-08-24/E-paper: Nusantara

Surabaya – Keragaman hayati di daerah aliran Sungai Brantas, Jawa Timur, terancam apabila pengelolaan sungai serta pemanfaatan sungai dan lahan di DAS Brantas tidak terpadu.

Indikasi perusakan terlihat di beberapa hulu Sungai Brantas, seperti Sungai Bladak dan Sungai Krecek.

”Berdasarkan penelitian Ecoton (Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) dan sensus serangga air di hulu Sungai Brantas di Gunung Kawi, Gunung Welirang, Gunung Kelud, dan Gunung Arjuna, Juni-Juli 2009, hulu Sungai Brantas mulai rusak,” kata Direktur Eksekutif Ecoton Prigi Arisandi, Minggu (23/8) di Surabaya.

Indikator yang digunakan adalah serangga dari kelompok Ephemeroptera, Plecoptera, dan Tricoptera (EPT) yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu serta perubahan fisik bantaran.

Penyebabnya, makanan serangga air berasal dari beragam tumbuhan yang menaungi sungai. Tumbuhan juga memelihara ketersediaan air. Semakin banyak pepohonan, ketersediaan air makin besar.

Di Sungai Bladak di Gunung Kelud, Kabupaten Blitar, dan Sungai Krecek di Gunung Arjuna, Kabupaten Pasuruan, menurut Koordinator Program Ecoton Daru Setyo Rini, beberapa jenis serangga air sudah hilang. Di Sungai Bladak ada penambangan batu dan pasir.

Lahan sekitar Sungai Krecek digunakam untuk pertanian dan peternakan ayam. Banyak warga membuang sampah ke sungai.

Di Sungai Konto yang merupakan kawasan Coban Rondo di Gunung Welirang, Kabupaten Mojokerto, mulai banyak aktivitas manusia, seperti warung dan pengunjung yang membuang sampah ke sungai. Karena kawasan Perhutani yang ditanami tanaman industri homogen, keragaman serangga air di sungai itu relatif rendah.

Dekan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Prof Joni Hermana mengatakan, penurunan keragaman hayati menunjukkan penurunan kualitas air.

Apabila keragaman hayati di hulu rusak, bagian hilir kemungkinan lebih parah.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Jatim Dewi J Putriatni mengatakan, Pemerintah Provinsi Jatim akan memprioritaskan pengelolaan hulu Sungai Brantas dalam 5 tahun ke depan.

Jumlah mata air Sungai Brantas berkurang dari 111 menjadi 47 mata air. Upaya yang dilakukan antara lain dengan penghijauan.

Waduk Dawuhan

Akibat kekeringan, air di Waduk Dawuhan, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun, hanya cukup untuk mengairi areal pertanian seluas 17 hektar. I

tu pun diperkirakan tidak akan bisa mengairi sampai masa panen tiba, akhir bulan September.

Menurut penjaga Waduk Dawuhan, Zaidi, ketinggian air di waduk berkapasitas maksimal 5,150 juta meter kubik air itu kini sekitar 4 meter.

Pada ketinggian 1,5 meter, air waduk tidak akan dikeluarkan lagi. Air yang tersisa digunakan untuk perawatan tanggul waduk agar tidak mudah rusak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: