Jadilah Lumbung Pangan Dunia!

Kompas 2009-08-19/Halaman Teropong

Oleh Hermas E Prabowo

Krisis pangan dunia yang dipicu lonjakan harga minyak mentah setahun berlalu. Harga pangan kembali stabil meski tidak kembali ke tingkatan harga sebelum krisis berlangsung.

Peristiwa dramatis tahun 2007/2008 itu telah menyentakkan negara-negara di dunia untuk memberikan perhatian yang lebih pada ketahanan pangan bangsanya, terutama dari aspek ketersediaan pangan.

Negara-negara di dunia yang memiliki potensi sumber daya pertanian berlomba meningkatkan produksi pangan.

Filipina yang selama ini terbuai oleh pasokan pangan, terutama beras impor, mulai membuat langkah-langkah penting dalam produksi pangan. Begitu juga dengan Malaysia. China dan India sudah lebih dulu.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam menjaga ketahanan pangan berbasis beras, Indonesia jauh dianggap lebih mampu. Organisasi Pangan Dunia (FAO) juga mengakuinya.

Lihat saja sepanjang tahun 2008 hampir tidak ada gejolak harga beras. Ketika harga beras dunia melonjak hingga 1.000 dollar AS per ton, setara dengan Rp 12.000 per kilogram untuk nilai tukar saat itu, pasar beras Indonesia mampu mengisolasi diri dengan menjaga harga beras untuk jenis beras yang sama pada posisi Rp 5.000 per kilogram. Selain keberhasilan peran Bulog, itu juga karena adanya peningkatan produksi beras yang fenomenal.

Lantas bagaimana dengan pangan nonberas? Stabilitas harga pangan nonberas, seperti gandum, kedelai, susu, gula, dan daging sapi, memang terjadi. Tetapi, itu lebih karena dampak melesunya ekonomi dunia yang menyebabkan jatuhnya harga minyak mentah hingga di bawah nilai keekonomian untuk memproduksi bioenergi.

Apakah Indonesia akan terus berada pada level aman? Mungkinkah gejolak harga pangan tidak berulang?

El Nino dan kebangkitan ekonomi

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengisyaratkan adanya tantangan yang lebih besar di masa mendatang.

Fenomena musim kemarau yang semakin panjang, baik karena dampak perubahan iklim global maupun karena fenomena iklim El Nino, bisa mengancam produksi pangan kapan saja.

Apalagi sepuluh tahun belakangan ini fenomena iklim El Nino semakin sering terjadi. Dalam waktu tiga tahun sampai tahun ini bahkan terjadi dua kali kemarau panjang sebagai dampak El Nino.

Faktor eksternal yang juga penting adalah harapan akan membaiknya perekonomian global pascakrisis keuangan, yang diprediksi bakal mulai menunjukkan gejala membaik pada tahun 2010.

Banyak kalangan melihat China akan memegang peranan penting dalam pemulihan ekonomi global, menyusul semakin bergantungnya Amerika Serikat sebagai negara adidaya pada perekonomian negeri tirai bambu itu.

Indikasinya defisit anggaran AS tahun 2009 melebihi 1,8 triliun dollar AS, dengan utang 12 triliun dollar AS. Dosen Ekonomi Politik Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Syamsul Hadi, menulis, China diperkirakan mewakili 83 persen dari defisit perdagangan nonminyak AS.

Selain itu, defisit perdagangan AS justru ”ditanggung” China yang mengakumulasi pembelian surat berharga AS senilai 763,5 miliar dollar AS. Melihat indikasi tersebut, bukan tidak mungkin kebangkitan ekonomi global akan berawal dari China.

Jika kebangkitan ekonomi seperti yang diharapkan terjadi, bukan tidak mungkin membawa konsekuensi berupa menggeliatnya kembali sektor industri, yang tentunya akan menambah permintaan akan minyak dunia.

Hukum permintaan dan penawaran berlaku. Harga minyak akan kembali melambung, substitusi minyak bumi ke bioenergi yang bersumber dari komoditas biji-bijian pertanian bergairah dan harga pangan kembali bergejolak. Karena produksi komoditas pertanian akan banyak terserap untuk bioenergi guna menyubstitusi minyak bumi yang harganya melambung.

Semakin sulit diprediksi lagi karena komoditas pangan ekspor nyatanya masuk pasar komoditas. Naiknya harga minyak bisa segera memicu spekulan mengambil untung besar dari perdagangan komoditas pertanian di pasar berjangka.

Lampu kuning akan mulai menyala. Indonesia sulit menghindar dari dampak fluktuasi harga komoditas pertanian karena sebagian kebutuhan pangan bangsa kita dipenuhi dari impor, seperti gandum, kedelai, gula, daging sapi, susu, bahkan yang menyedihkan juga garam.

Pangan impor tersebut hampir 100 persen didatangkan dalam bentuk komoditas primer. Gejolak harga yang terjadi akan langsung memengaruhi sendi-sendi perekonomian bangsa kita karena banyak industri dan usaha kecil menengah yang hidupnya bergantung sepenuhnya pada komoditas itu.

Apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia kalah cepat dibandingkan dengan ekonomi kawasan maupun global, nilai tukar rupiah akan semakin rendah.

Devisa negara yang akan digunakan untuk membeli produk pangan impor semakin tinggi, sementara ekspor semakin ketat, menyusul semakin kompetitifnya produk China menghegemoni pasar dunia.

Bersambutnya ”momentum” kebangkitan ekonomi global dengan dampak fenomena iklim El Nino semakin memunculkan kewaspadaan akan ketersediaan pangan.

Solusi yang tidak biasa

Meski begitu, kita tidak perlu berkecil hati. Masih ada peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai basis produksi pangan, termasuk mimpi menjadi lumbung pangan dunia.

Apalagi potensi lahan yang bisa dimanfaatkan untuk sektor pertanian, khususnya tanaman pangan, masih besar. Tinggal bagaimana mengelola potensi dengan baik sehingga produksi pangan bisa meningkat terus.

Direktur Jenderal Pengelolaan Lahan dan Air Departemen Pertanian Hilman Manan menyatakan perlunya bangsa Indonesia berpikir dan mencari solusi yang tidak biasa.

Selama ini mengatasi persoalan pangan selalu melalui pendekatan jangka pendek, yang biasa-biasa saja. Misalnya mengoptimalkan teknik budidaya pertanian serta melakukan penguatan ekonomi petani melalui permodalan dan kelembagaan.

Masalah itu memang penting. Tetapi, dalam jangka panjang, yang jauh lebih penting adalah memperbaiki daya dukung alam dalam bentuk lahan dan air sebagai jaminan memproduksi pangan yang berkelanjutan.

Bagaimana penyusutan lahan pertanian ditekan, kesuburan lahan ditingkatkan, dan pasokan air untuk pertanian dipulihkan kembali.

Bangsa kita harus melakukan penataan sumber daya pertanian untuk memberikan jaminan ketersediaan lahan, air, infrastruktur pertanian, mulai dari jalan, jaringan irigasi, infrastruktur terkait rantai pasokan, hingga adanya jaminan pasar dan harga. Jangan mengandalkan isi perut bangsa pada negara lain.

Peluang bagi bangsa Indonesia masih besar mengingat sumber daya alamnya yang bagus. Terkait El Nino atau La Nina, Hilman mengatakan, sesungguhnya Indonesia masih memiliki banyak cara untuk meredam dampak buruknya agar tidak banyak memengaruhi persediaan pangan dalam negeri.

Strateginya meredam persoalan global dengan pendekatan lokal. Ini dimungkinkan karena Indonesia bukanlah negara daratan yang lahan pertanian kebanyakan dalam bentuk hamparan seperti Australia dan AS. Indonesia adalah negara berpulau lengkap dengan pegunungan yang menjulang, dengan lahan pertanian tersebar dan ada di setiap pulau.

Topografi seperti ini memungkinkan bangsa kita mengelola alam secara lokal. Lihat saja kondisi alam hampir semua kawasan barat dari setiap pulau di Indonesia jauh lebih subur dibandingkan wilayah timur.

Jawa Barat lebih banyak hujan daripada Jawa Timur, begitu pula wilayah barat NTT lebih subur dari wilayah timur. Irian bagian barat lebih subur dibandingkan Irian bagian timur, begitu pula dengan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan pulau-pulau lain. Wilayah-wilayah barat dari setiap kepulauan itulah yang seharusnya menjadi basis produksi pangan pokok.

Melihat fenomena itu, pengelolaan tata ruang yang propangan menjadi penting. Guru besar ilmu ekonomi Institut Pertanian Bogor, Hermanto Siregar, mengatakan, peningkatan produksi pangan bisa dilakukan dengan cepat manakala bangsa ini mau mengubah orientasi kebijakan pembangunan ekonomi ke industri berbasis pertanian.

Selama pertanian tidak menjadi prioritas, keinginan menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia hanya akan menjadi isapan jempol.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: