Budidaya Udang Windu Semakin Tertinggal

Kompas 2009-08-19/Halaman Bisnis & Keuangan

Jakarta – Budidaya udang windu atau black tiger yang merupakan spesies asli Indonesia semakin tertinggal. Produksi induk udang windu di sejumlah sentra produksi merosot hingga 50 persen.

Kendala budidaya windu itu terungkap dalam Temu Bisnis Peluang Usaha dan Investasi Industri Udang di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, Selasa (18/8) di Jakarta.

Kendala budidaya windu menjadi ironis mengingat nilai jual udang windu tergolong tinggi. Harga udang windu saat ini mencapai Rp 150.000 per kg, berisi 10-15 ekor per kg. Pemasaran udang itu terutama ke Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa.

Perairan yang berpotensi untuk pengembangan udang windu, antara lain, adalah Kabupaten Selayar di Sulawesi Selatan, Provinsi Gorontalo, Meulaboh di Aceh, Laut Arafura, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur.

Kepala Balai Budidaya Laut Lampung Muhammad Murdjani mengemukakan, dalam empat tahun terakhir, induk udang yang umumnya dari alam ditemukan terinfeksi penyakit di kedalaman perairan hingga 40 meter. Penyakit itu, antara lain, adalah white spot dan monodon baculo virus (MBV).

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur Khaerani Saleh mengungkapkan, pasokan induk udang windu saat ini turun dari 500.000 ekor per bulan menjadi 250.000 ekor. Pasokan langka itu membuat harga naik dari Rp 300.000 per pasang hingga Rp 1 juta.

Tahun 2008, ekspor udang windu di Kaltim berkisar 15.489 ton, turun dari 18.000 ton tahun 2007. ”Ekspor menurun dipicu penyakit,” ujar Khaerani.

Kebutuhan benih udang (benur) windu di Kaltim 4 miliar ekor per tahun dan bisa dipenuhi sekitar 1,5-2 miliar ekor. Sisanya 2,5-3 miliar ekor dari Jawa dan Sulawesi. Namun, benur juga terserang penyakit.

Luas kawasan budidaya udang windu di Kaltim saat ini 130.000 hektar. Areal tambak udang windu yang dimiliki setiap pembudidaya tradisional berkisar 2-5 hektar per rumah tangga. Adapun tebaran benur minim, yakni 200-300 ekor per tambak.

Tingkat hidup benur udang windu hanya 20-30 persen, lebih rendah ketimbang spesies udang vaname yang 70 persen.

Budidaya udang windu dikembangkan secara tradisional oleh masyarakat, berupa penggunaan induk hasil tangkapan, pakan alami, dan tidak diberi obat-obatan maupun antibiotik.

Tahun 2009, target produksi udang windu 162.355 ton, sedangkan udang vaname 377.645 ton.

One Response

  1. Dear All,
    Dalam hal ini seharusnya pemerintah ikut mencari solusinya, tidak hanya udang vanemi saja yang perhatikan, yang harus diperhatikan sekarang adalah cara budidaya yang baik dan berkelanjutan.
    Demikian semoga bermanfaat.

    Salam,
    Hendra Gunawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: