Bensin Rp 15.000 Per Liter, Nelayan Marore Menderita

Kompas 2009-08-19/Halaman Nusantara

Marore- Nelayan Pulau Marore, Pulau Kawio, dan pulau-pulau di sekitarnya menderita akibat sulit mendapatkan bahan bakar minyak. Nelayan terpaksa membeli secara eceran dengan harga Rp 10.000- Rp 15.000 per liter. Beberapa nelayan Marore, Senin (17/8), menyatakan, pasokan BBM jarang tiba di pulau terluar itu.

Pulau Marore dan Pulau Kawio adalah dua di antara tiga pulau terluar di Sangihe, Sulawesi Utara. Satu pulau lain adalah Kawaluso. Marore dan Kawio masing-masing berpenduduk 669 jiwa dan 385 jiwa. Penduduk dua pulau itu mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Marore dapat ditempuh menggunakan kapal motor selama 20 jam hingga 24 jam. Adapun Kawio berjarak sekitar 30 menit dari Marore.

”Kiriman bensin dari Pertamina terakhir datang Mei lalu. Tidak sampai satu bulan, habis,” kata Ungket, nelayan Marore.

Nelayan lain, Jan (48), menyatakan, gara-gara tidak ada pasokan BBM, nelayan kerap tidak dapat melaut. Nelayan baru beroperasi jika ada penduduk mendatangkan BBM dari Tahuna.

”Jika orang itu membeli dari SPBU, dia menjual Rp 8.000 per liter. Jika cuaca buruk, harga bisa sampai Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per liter,” kata Jan.

Sekali melaut sehari penuh, nelayan Marore perlu bensin 20 liter. Padahal, kata Jan, hasil tangkapan ikan kadang lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan.

Para nelayan dan Bupati Sangihe W Salindeho berharap pemerintah segera membantu mengatasi persoalan ini.

Menanggapi hal itu, Direktur Jenderal Kelautan, Pesisir, dan Pulau-pulau Kecil Alex Retraubun mengatakan, pihaknya akan menyampaikan ke instansi terkait.

Gelombang tinggi

Sekitar 500 nelayan di Pantai Pasir, Kabupaten Kebumen, Jateng, sepekan ini tak melaut karena perahu mereka yang umumnya berbobot mati 3 ton tidak mampu mengatasi gelombang laut yang kini mencapai 3 meter.

Mugiyo (40), nelayan Pantai Pasir, mengaku rugi tidak bisa melaut selama sepekan. Namun, jika dipaksakan melaut, kapalnya bisa terempas gelombang.

”Sementara ini, saya memilih bertani saja,” kata Mugiyo, Selasa.

Di Cilacap, gelombang tinggi dijadikan sebagai indikator arus pergerakan ikan ke arah perairan Cilacap. Sahari (46), nelayan di Kebon Baru, Kecamatan Cilacap Selatan, mengaku bisa menangkap ikan jambal sampai 1 ton.

Namun, kapal yang digunakan minimal harus berbobot mati 10 ton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: