Produksi Menurun, Bombana Impor Beras

Kendari Pos 2009-08-15/Bumi Anoa Halaman 6

Kasipute– Kekeringan yang melanda Bombana sejak beberapa bulan lalu membuat produksi beras di daerah itu menurun.

Tidak hanya itu, akibat kemarau berkepanjangan, daerah yang dulunya dikenal sebagai lumbung padi, terpaksa mengimpor beras dari luar daerah termasuk ke Sulawesi Selatan.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan Holtikultura Bombana, Sirajuddin menyatakan, penurunan produksi beras tahun ini disebabkan karena areal persawahan banyak mengalami kekeringan.

Bahkan kecamaan Rarowatu Utara dan Lantari Jaya, yang dikenal sebagai wilayah yang memproduksi beras banyak setiap tahun, sebagian besar puso alias gagal panen.

“Dari sekitar 1600 hekatr sawah di Lantari Jaya, dan Rarowatu Utara, 900 hektar diantaranya kami laporkan puso. Sisanya, ada yang sudah panen, namun ada juga yang tidak bersawah sama sekali”, ungkapnya kemarin.

Menurutnya, gagal panen serta tidak beraktivitasnya petani di dua kecamatan itu karena persawahan mereka tidak dialiri air. Disamping, juga disebabkan air sungai yang ada tidak lagi sampai di areal persawahan mereka.

“Bagaimana bisa sampai, air sungainya sudah rusak akibat pertambangan. Hal inilah yang menyebabkan tanaman padi mereka puso sehingga berdampak dengan menurunnya produksi beras” jelasnya.

Produksi beras di Bombana menjadikan daerah itu harus mengimpor beras dari Kolaka, Konsel, bahkan mendatangkan dari Sulawesi Selatan.

Menurut Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Penanaman Modal, Bombana Mushadad, mengakui hal itu. Ini dilalkukan oleh para pedagang di Bombana, sedangkan pihaknya belum melakukan itu.

“Baru sebatas pedagang yang dilalkukan, kami belum mengimpor beras dari luar karena stoknya amsih mencukupi”, ungkapnya.

Hj Tamamse, salah seorang pedagang beras di pasar sentral Kasipute merupakan salah pedagang yang mengimpor beras dari Kolaka, Konawe. dan Sullsel.

Menurut dia, impor beras terpaksa dilakukan selain karena produksi beras lokal mulai berkurang, pembeli kebanyakan mencari beras impor.

“Mengenai harganya, tidak jauh beda dengan lokal”, ungkapnya.

Impor beras terjadi itu mendapat tanggapan dari Anggota DPRD Bombana, Aras Tarika.

“Inilah salah satu keanehan yang terjadi di Bombana. Bayangkan, memiliki lokasi persawahan yang terbentang luas hingga ribuan hektar, daerah ini tidak bisa memanfaatkannya secara maksimal.

Dan ini menjadi tantangan dinas pertanian dan penyuluh lapangan, bagaimana mereka bisa mengatasi produksi beras yang menurun serta mengimpor beras dari luar Bombana”, ungkapnya.

Yang lebih memprihatinkan lagi kata Aras Traika, ternyata bukan hanya beras yang diimpor, beberapa kebutuhan lain seperti cabe,  dan sayur mayur diimpor dri daerah lain.

“Waktu Kasipute dulu sebelum menjadi kabupaten tidak begini. Sekarang aneh, orang Kasipute beli sayur disini, sayurnya dari Pajala, Muna. Seharusnya Dinas Pertanian dan Badan Penyuluh tanggap dengan hal ini, apalagi di dukung dengan dana dari APBD”, ungkapnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: