Indonesia Minim Peneliti Satwa Liar

Kompas 2009-08-13/Halaman 12 Lingkungan & Kesehatan

Bogor – Indonesia dengan kekayaan hayati melimpah hingga kini tidak didukung kecukupan jumlah peneliti satwa liar. Akibatnya, banyak informasi keanekaragaman hayati Tanah Air yang belum terdeteksi jenis dan potensinya.

”Sangat mungkin banyak satwa yang punah sebelum kami ketahui data dan informasinya,” kata Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramaliati Prijono kepada wartawan di Cibinong Science Center, Bogor, Rabu (12/8).

Data Badan Konservasi Dunia (IUCN) menunjukkan, sejumlah satwa liar khas Indonesia masuk kategori terancam punah, seperti orangutan, komodo, harimau sumatera, dan badak jawa. Di sisi lain tidak mudah menemukan peneliti dalam negeri yang benar-benar mendalaminya.

Minimnya jumlah peneliti LIPI tersebut seiring dengan anggaran penelitian yang minim. Adapun penelitian lapangan dan laboratorium bidang zoologi membutuhkan dana besar untuk mobilitas dan ketersediaan sarana penelitian.

Saat ini jumlah peneliti di Puslit Biologi LIPI sebanyak 208 orang. Jumlah itu termasuk peneliti tumbuh-tumbuhan (botani) dan mikrobiologi.

Dari jumlah yang sudah terbagi itu, tugas peneliti satwa (zoologi) secara umum masih dibagi dua, yaitu meneliti dan menemukan jenis-jenis baru dan memprediksi potensi ke depan (bioprospeksi). Sementara itu, jumlah satwa liar di Tanah Air mencapai jutaan jenis.

”Oleh karena itu, kami membangun jaringan dengan perguruan tinggi dan LSM internasional,” kata Kepala Bidang Zoologi LIPI Jauhar Arif.

Sebagai gambaran, untuk 703 jenis mamalia di Indonesia hanya ada delapan peneliti mamalia di LIPI. Peneliti burung sebanyak 10 orang untuk 1.600-an jenis burung, tiga peneliti untuk 150 jenis amfibi, 27 peneliti untuk 350-an jenis reptil, 17 peneliti untuk jutaan jenis serangga, serta 5 peneliti untuk 2.000 jenis ikan air tawar.

Fokus penelitian

Siti menyatakan, fokus penelitian Puslit Biologi LIPI adalah menemukan jenis baru, sebaran, dan potensi pemanfaatannya ke depan. Eksotisisme dan endemisitas satwa liar, seperti komodo, harimau sumatera, dan orangutan, tidak menjadi pertimbangan pemilihan spesifikasi penelitian.

”Tugas kami mengungkap kekayaan keanekaragaman hayati dan potensi pemanfaatannya, seperti untuk obat, pangan, atau kesehatan,” ujar Siti. Data dan informasi satwa liar bisa diperoleh dari hasil kerja sama dengan peneliti di luar LIPI.

Meskipun begitu, LIPI tetap turun tangan ketika ada kasus-kasus besar, seperti polemik relokasi satwa komodo dari Flores, Nusa Tenggara Timur. ”Kami turun tangan juga untuk kasus emergency seperti komodo,” kata Jauhar.

Minimnya penelitian zoologi juga terpantau di tingkat sarjana. Penelitian dua bulan terakhir di enam perguruan tinggi besar di Jawa Tengah menunjukkan, jumlah skripsi terkait zoologi sangat minim.

”Jumlahnya hanya sekitar 1 persen dari total judul skripsi lima tahun terakhir,” kata peneliti burung LIPI, Mas Noerdjito.

Kondisi tersebut dimaknai sebagai hal yang mengkhawatirkan karena minimnya minat calon sarjana untuk meneliti zoologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: