Samarinda yang Terus Membara

Kompas 2009-08-11/E-Paper Nusantara Hal 23

Rusaknya lingkungan dan lemahnya penataan permukiman mengakibatkan Kota Samarinda di Kalimantan Timur tidak bebas dari bencana.

Pada musim hujan, banjir menerjang dan memaksa ribuan warga mengungsi. Adapun pada musim kemarau seperti sekarang ini, kebakaran tak jarang meludeskan rumah penduduk, yang ujung-ujungnya juga menyebabkan warga mengungsi.

Pada Agustus ini saja tercatat setidaknya terjadi tujuh kebakaran di kota tersebut. Pada Minggu (9/8) bahkan terjadi kebakaran di dua lokasi. Satu di antaranya, kebakaran pada siang hari di RT 16 dan RT 17, Kelurahan Karanganyar, menyebabkan 20 bangsal ludes. Satu lainnya, kebakaran pada malam hari menyebabkan 40 rumah di RT 14, Kelurahan Pelabuhan, habis terbakar.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Kota Samarinda, terjadi 60 kebakaran sejak Januari hingga Agustus ini.

Sebanyak 1.436 jiwa mengungsi karena 338 rumah dan bangsal yang menjadi tempat tinggal mereka ludes terbakar. Luas kawasan yang terbakar 164.293 meter persegi. Kerugian material sedikitnya Rp 11 miliar.

”Kebakaran disebabkan ketidakteraturan di banyak aspek,” kata Kepala BPBPK Samarinda Murjani Aziz, kemarin.

Ibarat gula

Samarinda, yang dibelah Sungai Mahakam yang terpanjang di Kalimantan Timur, ibarat gula. Semut-semutnya adalah pendatang dari Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Sumatera yang kebanyakan masuk kategori miskin. Pada 2008, penduduk Samarinda tercatat sekitar 600.000 jiwa. Pertengahan tahun ini, penduduk Tepian Mahakam itu sekitar 700.000 jiwa alias bertambah 100.000 jiwa dalam setengah tahun.

Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalimantan Timur Kusnadi Katam mengatakan, pertumbuhan penduduk yang amat tinggi itu berdampak terhadap naiknya kebutuhan permukiman. Namun, karena sebagian besar penduduk masih golongan miskin, mereka pada umumnya tak mampu membangun rumah yang ideal.

Permukiman rata-rata dibangun dari bahan kayu yang mudah terbakar. Hunian padat penduduk, rumah-rumah berimpitan tidak teratur, bahkan kumuh, dibangun di sekitar gang-gang sempit.

Hal ini menyulitkan mobilitas petugas pemadam kebakaran ketika bencana tersebut terjadi.

Kekurangpahaman mereka soal listrik juga menyebabkan instalasi listrik yang dibangun jauh dari ideal, apalagi aman. Arus pendek listrik kerap menjadi kambing hitam penyebab kebakaran.

Satu hal yang juga kurang dipahami warga adalah keamanan rumah dan lingkungan dari bahaya kebakaran. Obat nyamuk, lilin, pelita, lampu minyak, dan kompor, yang bisa menjadi penyebab kebakaran, kerap mereka letakkan di dekat bahan yang mudah terbakar.

Tidak berfungsi

Masalah lain yang juga terkait dengan penanganan kebakaran, saat ini setidaknya 18 dari 82 pipa hidran di kota tersebut tidak berfungsi. Yang berfungi pun hanya memberikan sedikit air sehingga tidak efektif digunakan untuk memadamkan kebakaran. Karena itu, mobil pemadam selalu didampingi mobil tangki pembawa mesin pompa—saat menangani kebakaran—untuk menyedot air sungai.

Kendala lainnya, petugas pemadam kebakaran yang benar-benar terlatih masih terbatas. BPBPK Samarinda memiliki 170 personel.

Yang menjadi instruktur cuma dua orang, sedangkan yang mahir menangani kebakaran hanya empat orang. Yang berketangkasan lanjut tercatat 17 orang, sedangkan selebihnya adalah petugas berkemampuan pemula.

Selain BPBPK, di kota itu memang ada 200 personel dari 13 pemadam kebakaran swasta dan sekitar 500 anggota barisan sukarela kebakaran (balakar) di semua kelurahan.

Namun, ketangkasan staf pemadam swasta dan barisan sukarela itu dinilai masih kurang meski keberanian dan kenekatan mereka tidak perlu diragukan. Setiap kali ada kebakaran, berbondong-bondong petugas dari pemadam kebakaran swasta dan barisan sukarela tersebut datang.

”Bahkan, beberapa balakar dan pemadam swasta ada yang ibaratnya maniak dengan kebakaran. Padahal, dalam menangani kebakaran patut diperhatikan keselamatan sendiri,” kata Murjani Azis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: