Penambangan Pasir di Sungai Konaweha, Resahkan Warga

Kendari Ekspres 2009-08-11/Halaman Utama

* Rumah dan Pepohonan di Kebun Tumbang Akibat Abrasi

Unaaha,Kepres – Aktifitas penambangan pasir dengan mengeruk pasir di dasar sungai Konaweha Kelurahan Tuoy Kecamatan Unaaha, mulai meresahkan warga masyarakat yang bermukim di sepanjang bibir sungai Konaweha.

Pasalnya akibat pengerukan dasar sungai menggunakan alat berat escapator ini disinyalir telah menyebabkan abrasi besar-besaran di sekitar areal penambangan. Akibatnya, kebun milik warga yang ditumbuhi kakao dan kelapa, tumbang terkikis abrasi sungai yang makin menggila.

Bahkan sejumlah rumah warga di Kelurahan Latoma dilaporkan ikut tumbang akibat abrasi sungai yang tak sudi dipantau oleh instansi teknis terkait yang kompeten melakukan control terhadap lingkungan di sekitar sungai. Kerugian materi yang dialami warga sudah tak bisa ditaksir lagi.

“Uh….. saya tidak tahu mi lagi berapa kerugiannya warga di sekitar penambangan ini, sudah banyakmi,” keluh Aswani, salah seorang pemilik lahan di sekitar areal penambangan yang lahannya ikut terkikis.

Aswani yang ditemui di kebunnya, Senin (10/8), memperlihatkan kepada jurnalis koran ini kondisi lahannya yang terkikis oleh abrasi sungai. “Lahan saya sudah banyakmi yang terkikis, adami 50 meter dari bibir sungai.

Disana (dalam sungai _red) itu dahulu adalah kebun kakao dan kelapa, semuanya sudah tumbang,”paparnya sambil menunjukkan puing-puing batang kelapa dan pohon kakao yang telah menjadi ‘bangkai’ di dalam sungai.

Kata dia, semenjak masuknya penambangan pasir di tengah sungai dengan menggunakan alat berat, abrasi sungai berlangsung dahsyat. “Sebelumnya pengikisan ada juga tapi tidak seberapa. Tapi dua tahun terakhir semenjak alat-alat berat ini masuk mengeruk pasir di tengah sungai, pengikisan luar biasa sekali cepatnya,” keluhnya.

Mengenai masuknya perusahaan tambang pasir di lokasi itu, Aswani dan warga sekitar yang tak mau namanya dikorankan, mengaku tak mendapat sosialisasi dari pemerintah atau dari pemilik usaha mengenai aktifitas yang akan mereka jalankan di lokasi itu.

Dengan pengetahuan yang sangat minim akan persoalan pengusahaan tambang, warga hanya mengingatkan pengawas lapangan yang setiap saat menjalankan aktifitas pengerukan di lokasi itu untuk tidak menggunakan alat berat di dalam sungai.

“Sudah berapa kali saya usir mereka, tapi setelah itu datang lagi dan melakukan aktifitas yang sama. Saya tidak tahu mi lagi berapa kali saya usir mereka, hampir setiap saat,”kesal Aswani terhadap perilaku para penambang pasir.

Derita minoritas warga ini ternyata telah diketahui sejumlah wakil rakyat yang duduk di DPRD Kab Konawe.

Dan para Politisi pengemban aspirasi masyarakat Konawe ini pernah mengagendakan kunjungan ke lokasi tambang beberapa bulan sebelum pemilihan legislative April 2009 lalu.

Namun rencana tersebut hanyalah sekedar rencana tanpa ada realisasi. Bahkan sejumlah anggota dewan yang mengotaki kunjungan ke lokasi tersebut terpilih kembali dan sebagian pula ‘tumbang’ dalam Pileg baru-baru ini.

Bahkan isu kerusakan lingkungan yang terjadi di areal pertambangan pasir di Kel Tuoy, tak menarik lagi diperbincangkan diantara anggota parlemen yang masa tugasnya di DPRD tinggal menghitung hari saja.

Dan rencana kunjungan lapangan yang pernah digaungkan dahulu ikut ‘hanyut’ terbawa arus sungai Konaweha yang deras bersama ‘bangkai’ pohon kakao dan kelapa yang tumbang terkikis arus sungai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: