Jangan Hanya Semata Polemik

Kompas 2009-08-10/E-paper: hal 14 Ilmu Pengetahuan & Teknologi

Satwa langka komodo (Varanus komodoensis) diyakini telah menghuni tanah kering Nusa Tenggara mungkin jutaan tahun silam. Munculnya isu relokasi lima pasang komodo dari Pulau Flores menyebabkan komodo menjadi satwa yang mengundang komentar banyak kalangan. Gesit Ariyanto

Selama dua pekan pemberitaan gencar di berbagai media. Sebagian besar menolak rencana pemindahan komodo ke Taman Safari Indonesia III Gianyar, Bali.

”Saya benar-benar shock,” kata Kepala Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Nuramaliati Prijono di kantornya, akhir pekan lalu. Bukan saja karena pemberitaan menolak pemindahan yang santer setiap hari itu, melainkan juga karena data populasi yang diterimanya.

Pihak LIPI, selaku otoritas keilmuan yang wajib diminta rekomendasinya—termasuk rencana konservasi di luar habitat alam (ex situ)—meletakkan dasar rekomendasi berdasarkan laporan jumlah populasi 650 ekor di Pulau Flores. Surat resmi Departemen Kehutanan (Dephut) menyebutkan, 300 ekor komodo dilaporkan hidup di Cagar Alam Wae Wuul, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Setelah muncul penolakan dari banyak kalangan, Dephut merevisi populasi komodo di Cagar Alam Wae Wuul menjadi 17 ekor saja, bandingkan dengan data awal 300 ekor! ”Bagaimana mungkin kami tidak percaya dengan data yang diberikan dulu?” kata Siti, terheran.

Sebuah laporan riset ”Dugaan Kelimpahan, Kepadatan, Laju Survival Tahunan, dan Laju Pertumbuhan Populasi Biawak Komodo di Balai Taman Nasional Komodo” memberikan gambaran kritisnya populasi komodo.

Riset oleh lembaga Komodo Survival Program yang didesain Jeri Imansyah tahun 2002 hingga 2006 menuliskan jumlah 1.435 ekor komodo dari 10 lembah di Pulau Komodo, Gili Motang, Rinca, dan Nusa Kode.

”Studi kami mengindikasikan populasi di Gili Motang dan Nusa Kode perlu perhatian intensif untuk cegah kepunahan,” kata Jeri. Adapun pihak Dephut menyebut total populasi komodo masih lebih dari 2.500 ekor.

Menurut Jeri, Komodo Survival Program juga turun mengidentifikasikan komodo di Flores, khususnya di Cagar Alam Wae Wuul. Pada survei 22 hari, Juni-Juli 2009, mereka mengidentifikasi 17 ekor komodo berbobot di bawah 20 kilogram.

Salah satu kesimpulan penelitian adalah populasi komodo di Wae Wuul rentan punah karena minimnya mangsa utama: rusa timor. Satu-satunya jalan adalah pengelolaan habitat alami untuk meningkatkan lagi populasi komodo di Flores. Di samping itu, kebakaran hutan harus dicegah.

Populasi komodo di dua pulau tersebut berada di bawah ambang batas teoretis—menunjukkan gejala kepunahan—yakni di bawah 100 ekor dalam satu populasi. ”Jumlah 17 ekor di satu populasi, seperti di Wae Wuul, bisa dibilang tinggal menunggu waktu punah,” kata Siti.

Tanpa mangsa mencukupi akan terjadi kanibalisme. Perkembangbiakan alami terganggu karena akan terjadi kawin keluarga (inbreeding)—keturunannya berdaya tahan rendah.

Komodo memiliki sifat partenogenesis, yaitu komodo betina membuahi telurnya sendiri apabila tidak bertemu jantan. ”Keturunannya jantan semua,” kata Siti. Seiring waktu jantan anakan itu kemungkinan akan kawin dengan induknya sendiri.

Reptil purba dengan endemisitas di Indonesia ini jauh dari perhatian pemerintah. Komodo layak disebut sebagai harta karun terbengkalai. Deputi Bidang Ilmu Hayati LIPI Endang Sukara menyebutkan hal itu, Selasa (4/8) di Jakarta.

”Tidak ada dana riset pemerintah untuk terus menelusuri perkembangan komodo. Data sangat minim, itu pun dari riset orang asing,” ujar Endang.

Intervensi segera

Mempertimbangkan populasi belasan ekor komodo di Wae Wuul atau di bawah 100 ekor di kawasan lain, dibutuhkan campur tangan segera untuk mengurangi risiko kepunahan.

”Konservasi di luar habitat atau di dalam habitat alami harus cukup pakan, cukup tutupan lahan yang memberi perlindungan, dan populasi jantan-betina dengan kekerabatan jauh yang cukup,” kata Siti.

Dalam jangka pendek, pendataan komodo di Wae Wuul perlu dilakukan untuk memastikan jumlah, tingkat kekerabatan, ketersediaan pakan, dan tingkat keterancamannya.

Sementara itu, peneliti Komodo Survival Program berharap Menteri Kehutanan membatalkan rencana pemindahan lima pasang komodo dari Wae Wuul. Sebaliknya, pemerintah memberi perlindungan khusus untuk populasi yang tersisa dengan bantuan dari Asosiasi Kebun Binatang Asia Tenggara (EAZA), yang memiliki buku silsilah sejumlah komodo yang ditangkarkan di sejumlah kebun binatang.

Koordinator Program Komodo Survival Program Deni Purwandana menyatakan, koleksi komodo di penangkaran dapat dicukupkan dari penangkaran-penangkaran lain yang sukses.

Polemik diharapkan tidak berakhir menang-kalah para pihak yang berkepentingan, tetapi berujung pada penyelamatan komodo dari kepunahan yang sudah di depan mata.

Jeri dan Endang Sukara sepakat, konservasi komodo butuh keseriusan pemerintah. ”Butuh keputusan presiden untuk menetapkan lembaga koordinator riset dan pengembangan komodo,” ujar Endang Sukara.

Menurut Jeri, belum terlambat menangani ancaman kepunahan komodo. Selama masih tersisa, seperti 17 ekor di Wae Wuul, peluang mempertahankannya dari ancaman kepunahan masih tetap ada. (NAW)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: