Harga Sayuran Terus Naik

Kompas 2009-08-07/Nusantara hal 22

Bandung – Kekeringan menyebabkan pasokan komoditas hortikultura ke sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung, Jawa Barat, berkurang. Akibatnya, harga sayuran terus membubung. Harga cabai merah keriting, bawang putih, serta sawi hijau mulai Kamis (6/8) naik.

Menurut Zaenal (27), pedagang Pasar Cihaurgeulis, ia biasa mengambil sawi hijau dari Pasar Induk Caringin sebanyak 100 kilogram per hari. Namun, mulai Kamis, dia hanya dijatah 70 kg.

”Harga sawi hijau akhir pekan lalu Rp 3.000 per kg kini menjadi Rp 4.000 per kg,” ujarnya, Kamis di Bandung. Harga bawang putih naik dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 8.000 per kg.

Di Pasar Induk Caringin, harga cabai merah keriting kini Rp 21.000 per kg dari harga Rp 15.000 per kg. Asep Ramlan (54), bandar cabai di Pasar Induk Caringin, menuturkan, pasokan cabai keriting tidak sebanyak biasanya.

Menurut Asep, panen cabai dan sawi dari petani di Lembang dan Pengalengan menurun kualitasnya karena lahan pertanian kekurangan pasokan air.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar Helmi Anwar mengatakan, ancaman kekeringan paling cepat dirasakan para petani hortikultura karena masa tanamnya pendek. Selain menghemat air, petani dianjurkan menanam sayuran organik yang lebih tahan kekeringan.

Di Magelang dan Tegal, Jawa Tengah, harga bawang putih melonjak tajam. Kalau biasanya Rp 3.000-Rp 4.000 per kg, kini harganya mencapai Rp 11.000-Rp 12.000 per kg.

”Selama 10 tahun saya berdagang di sini, inilah harga bawang putih termahal yang pernah saya alami,” ujar Luis, salah seorang pedagang di Pasar Muntilan. Bawang putih yang dijualnya berasal dari Taiwan.

Jika biasanya tiap dua minggu Luis dipasok 1,5 ton bawang putih, sekarang hanya 7 kuintal.

Hal serupa dirasakan Salami, pedagang di Pasar Borobudur, Magelang, yang menjual bawang putih asal Thailand. Juga Rosidah (29), pedagang sayuran di Pasar Pagi, Kota Tegal.

Ketua Koperasi Bawang Merah Indonesia Brebes Sukaemi menduga, kenaikan harga bawang putih akibat permainan importir.

Selama ini, bawang putih di Indonesia hampir semua berasal dari impor. Bawang putih lokal sangat sedikit, biasanya dikonsumsi untuk jamu.

Menurut Sukaemi, beberapa tahun lalu petani Indonesia, termasuk di Brebes, menanam bawang putih. Namun, setelah ada kebebasan impor tahun 1998, pasar bawang putih dalam negeri hancur dan petani gulung tikar.

Budidaya padi

Menghadapi musim kering tahun ini, budidaya padi dengan teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik diperluas di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur.

Penerapan teknologi ini dinilai cocok untuk Ende dan kawasan NTT umumnya yang bercurah hujan rendah.

Penanaman dilakukan di areal seluas 3.733 meter persegi di Dusun Watumere, Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona, Ende, Kamis. Uji coba sebelumnya di Kelurahan Rewarangga Selatan, Kecamatan Ende Timur, yang dipanen Maret menunjukkan, produksi padi setara 10,4 ton per hektar. Benih padi yang digunakan adalah varietas Ciherang.

”Teknologi ini mudah dilakukan petani dan benih padi hemat air,” kata Stefanus Ghunu dari Politeknik Pertanian Negeri Kupang, yang juga tim dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, Kamis di Ende.

Penerapan teknologi itu di Ende melalui program Sinergi Pemberdayaan Potensi Masyarakat dari Ditjen Pendidikan Tinggi Depdiknas.

Pengembangan dilakukan melalui kerja sama Universitas Padjadjaran, Universitas Nusa Cendana, Universitas Flores, serta Pemerintah Kabupaten Ende.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: