Kontroversi Pemindahan Komodo

Kompas 2009-08-04/E-paper Halaman 7 Opini

Oleh Ronny R Noor

Sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 384/Menhut-II/2009 13 Mei 2009, pemerintah mengizinkan menangkap 10 ekor komodo dari Cagar Alam Wae Wu’ul di Manggarai Barat untuk dipindahkan ke Taman Safari di Pulau Bali.

Alasannya, hal itu untuk menyelamatkan komodo yang terancam punah di habitatnya.

Dalam wawancara khusus tentang hal ini di radio El Shinta beberapa waktu lalu, Menhut menekankan, tujuan utama pemindahan ini selain melakukan konservasi ex situ juga untuk memurnikan genetiknya dan mencegah terjadinya inbreeding yang merugikan.

Populasi kecil

Ditinjau dari segi ilmiah, populasi komodo yang amat khas ini dapat digolongkan ke dalam island population di mana populasi yang mungkin ribuan dan bahkan jutaan tahun yang lalu menciut menjadi populasi-populasi kecil yang memiliki tingkat keragaman genetik yang khas, sesuai habitatnya.

Jadi, populasi komodo di Manggarai Barat dan di Pulau Komodo memiliki ciri khas populasi akibat sudah teradaptasinya gen-gen spesifik pada lingkungan yang spesifik pula.

Perlu diluruskan kembali, inbreeding tidak selalu merugikan. Dalam banyak hal, inbreeding merupakan salah satu metode persilangan yang banyak dimanfaatkan untuk memurnikan suatu breed atau galur (line).

Jika level coeficient inbreeding ini sudah mencapai angka tertentu, misalnya di atas 25 persen untuk ternak domestik, maka ”jika” ada gen yang merugikan yang ada dalam galur (line) itu, peluang gen itu muncul secara homozigot akan lebih besar.

Sebaliknya, jika tidak ada gen lethal yang merugikan pada galur itu, koefisien inbreeding yang tinggi sekalipun tidak akan menurunkan fitness galur tersebut.

Hal ini tentu akan sangat berbeda pada populasi satwa liar. Konsep survival the fittest biasanya berlalu pada hewan liar. Hanya para pejantan dan induk yang unggul saja yang dapat kawin dan berkembang biak serta menghasilkan keturunan.

Komposisi gen dan daya adaptasi gen inilah yang menjadi kunci keberhasilan satwa liar dalam berkembang biak dan bertahan untuk meredam fluktuasi kondisi lingkungan yang berubah setiap saat. Hal ini telah berlangsung ribuan tahun dan dengan level koefisien inbreeding yang sangat tinggi pun depresi inbreeding tidak begitu berpengaruh.

Kita ambil contoh kasus cheetah di Afrika dan belahan dunia ini. Koefisien inbreeding-nya mencapai di atas 90 persen. Hal ini berarti, hampir dipastikan bahwa semua cheetah di dunia ini berkerabat. Pada kenyataannya, populasi cheetah masih dapat bertahan dan berkembang biak dengan baik.

Pertanyaan besar

Kembali pada kasus komodo, kemungkinan besar justru inbreeding yang telah terjadi dalam kurun ribuan tahun ini menguntungkan bagi populasi komodo. Perlu diingat, dalam istilah genetika, populasi disebut dengan geographic specific population.

Mengingat terisolasinya habitat komodo ini, kemungkinan besar genetiknya murni dan kalaupun terjadi persilangan, persilangan terjadi dengan komodo asal Pulau Komodo.

Selain itu, karena populasi ini khas dan terisolir, maka tujuan memindahkan populasi komodo Manggarai untuk memurnikan genetik menjadi pertanyaan besar. Apanya yang akan dimurnikan?

Apakah sudah diteliti bahwa populasi ini tidak murni? Apakah sudah diteliti tingkat keragaman populasinya? Standar apa yang diacu untuk mengatakan bahwa populasi ini tidak murni.

Justru sebaliknya, biasanya populasi yang tergolong ke dalam island population ini memiliki kemurnian yang tinggi dan spesifik lokasi.

Perlu kehati-hatian

Ditinjau dari ilmu genetika, ekologi, dan populasi, diperlukan kehatian-hatian untuk melakukan konservasi ex situ. Sebab, jika dilakukan tanpa tinjauan ilmiah yang mendalam, hasilnya justru membantu mempercepat kepunahan suatu populasi.

Jika suatu individu atau kelompok individu dipindahkan dari habitatnya, biasanya individu ini mengalami berbagai stres, mulai dari stres akibat penangkapan, stres akibat tidak sesuainya dengan habitat baru, stres perubahan pakan, stres perubahan iklim, dan lainnya.

Secara fisiologis, jika individu komodo sudah lama beradaptasi pada suatu daerah, individu tersebut telah memiliki zona homeostasis fisiologinya yang khas.

Maka, pemindahan ke habitat lain akan memaksa individu tersebut untuk menyesuaikan ke titik ”zona homeostasis” barunya.

Jika individu tersebut tidak dapat secepatnya menyesuaikan diri, hal pertama yang dikorbankan adalah penurunan laju pertumbuhan dan mengurangi atau bahkan mengeliminasi aktivitas reproduksinya.

Ini berarti, setelah dipindahkan ke lingkungan baru yang tidak sesuai dengan habitat semula, ada kemungkinan komodo tersebut menunda reproduksinya atau bahkan tidak dapat bereproduksi sama sekali.

Jadi, diperlukan suatu kehatian-hatian dalam menerapkan kebijakan pemindahan komodo. Jangan sampai niat baik ini akan menjadi petaka kehilangan subpopulasi komodo yang hanya dapat ditemukan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Jangan sampai tragedi kematian massal bekantan yang dipindahkan dari Kalimantan ke Jawa Timur beberapa waktu lalu terulang kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: