Mentan: El Nino Akan Semakin Sering

Kompas 2009-08-04/E-paper Halaman 21 Bisnis & Keuangan

Jakarta- Pemenuhan kebutuhan pangan di masa mendatang akan semakin sering dihadapkan pada perubahan iklim global berupa El Nino.

Oleh karena itu, perlu peran serta dari semua pihak untuk menjaga dan mempertahankan daya dukung air sebagai sumber daya pertanian guna menjamin ketersediaan pangan yang berkelanjutan.

Menteri Pertanian Anton Apriyantono mengungkapkan hal itu, Minggu (3/7) di Musi Rawas, Sumatera Selatan. Ke depan Indonesia akan semakin sering terkena dampak El Nino.

Musim kemarau akan berlangsung lebih lama. Kondisi ini memerlukan berbagai upaya adaptasi agar produksi pangan terus terjaga.

Terkait dampak El Nino terhadap produksi pangan 2009, Anton menyatakan tidak akan banyak berpengaruh, apalagi perkiraan bahwa dampak El Nino akan terasa pada November 2009 dan semakin menguat pada Januari 2010.

Dampak yang cukup nyata justru pada produksi beras 2010. Kemungkinan akan terjadi penurunan target produksi karena jadwal musim tanam padi pada musim hujan akan mundur sekitar sebulan.

”Tiga tahun produksi padi kita naik rata-rata 5 persen. Tahun 2010, kemungkinan tidak mencapai target 65-66 juta ton gabah kering giling (GKG). Target akan dikoreksi, di mana pertumbuhan produksi diperkirakan antara 3-3,5 persen dari produksi tahun 2009 yang diperkirakan mencapai 62,5 juta ton GKG,” ujar Anton Apriyantono.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Musi Rawas Gufron menyambut baik gagasan pengembangan pola penanaman padi yang dilakukan secara intensif (System of Rice Intensification/SRI).

Dua keuntungan

Penanaman padi SRI terus dikembangkan karena di pasar ekspor harga beras kualitas premium produk SRI cukup tinggi.

Dengan mengembangkan padi SRI, dua keuntungan dapat diraih, yaitu peningkatan produktivitas beras per hektar dan peningkatan pendapatan petani.

”Dengan kenaikan produktivitas 1 ton per hektar, untuk luas tanam padi di Indonesia sekitar 12,5 juta hektar akan ada penambahan produksi padi 12 juta ton atau setara 7 juta ton beras. Sebanyak 7 juta ton itu adalah kelebihan produksi,” katanya.

Di Musi Rawas saat ini ada lima kecamatan yang berpotensi untuk pola penanaman padi SRI. Meskipun begitu, Gufron mempertanyakan tingginya harga jual beras organik SRI.

”Kami baru mendengar bahwa padi organik harganya Rp 8.000 per kilogram. Bagaimana caranya agar kami bisa menikmati harga tinggi itu. Petani di sini juga sudah mampu melakukan pengepakan beras seperti di pasar swalayan,” katanya.

Di Desa Suka Makmur, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Musi Rawas, Group Medco melalui Medco Foundation mengembangkan SRI organik di lahan seluas 15 hektar yang melibatkan 47 petani.

Pendiri Group Medco Arifin Panigoro menyatakan, pengembangan SRI harus didukung oleh pabrik pupuk organik, yaitu dengan menambah populasi sapi dan kambing sebagai pemasok kotoran hewan untuk bahan baku pupuk organik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: