Mengadu Untung di Tambang Emas Poboya

Kompas 2009-07-03/E paper halaman 23 Nusantara

Jarum jam menunjukkan pukul 14.00 wita, Jumat (24/7). Matahari terik. Cuaca panas ini tak membuat penambang emas di Kelurahan Poboya, Kota Palu, Sulawesi Tengah, beranjak dari tempatnya memecah batu. Sebagian mengaso sebentar, berdiri lagi, lalu mengambil martil dan linggis untuk kembali sibuk menggali tanah dan memecah batu.

Poboya hampir tak pernah tidur. Sejak pagi hingga malam, suara pukulan martil dan linggis beradu dengan batu-batu keras hampir tak pernah berhenti.

Truk, mobil bak terbuka, dan kendaraan roda dua hilir mudik mengangkut karung berisi batu menuju permukiman terdekat di Poboya berjarak sekitar 10 kilometer. Jalan tanah sempit dan berbatu menyeberangi sungai bukan hambatan.

Di rumah-rumah penduduk di Poboya, aktivitas warga tak kalah sibuknya. Membongkar karung, memukul batu hingga setengah hancur, lalu menggiling dalam tromol menjadi pemandangan lazim di rumah warga. Di lokasi penambangan tidak memungkinkan mengoperasikan tromol.

Di rumah penduduk, kepingan batu dicuci dengan air raksa (merkuri) untuk memisahkan butiran emas dari tanah.

Namun, tak semua batu mengandung emas. Kerap terjadi, tak sebutir emas ditemukan meski berkarung-karung batu yang dihancurkan. Namun, jika nasib lagi baik, batu-batu yang digali dan dihancurkan berisi butiran emas. Kadar emas di Poboya umumnya berkisar 40-80 persen. Harganya Rp 60.000-Rp 130.000 per gram.

Hasil menggiurkan itulah yang membuat penambang tak pernah patah semangat. Tambang emas Poboya seperti tanah harapan.

Tak sekadar warga lokal, penambangan ini dipenuhi warga pendatang dari luar Kota Palu, bahkan dari luar Sulawesi Tengah, seperti Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Selatan.

Riman (45), warga Gorontalo dari Marisa, misalnya, meninggalkan istri dan anak tak jadi soal asal pulang dapat emas. Harapan sama juga yang membuat Baharuddin (24), penambang lain asal Sulawesi Selatan.

Di Poboya mereka mendirikan tenda. Biasanya satu tenda dihuni satu kelompok berisi 4-6 orang. Mereka patungan modal atau seorang menjadi pemodal.

Masalah lingkungan

Saat ini aktivitas penambangan di Poboya kian tak terkendali. Terlebih lagi dengan kedatangan penambang dari luar Palu. Hingga tahun 2008 hanya ada puluhan tenda yang berdiri di sana. Kini jumlahnya diperkirakan sekitar 300 tenda. Lubang galian pun makin banyak.

Tindak kriminal juga sudah terjadi. Mei lalu aparat Kepolisian Resor Kota Palu menggagalkan penyelundupan 360 karung berisi batu dari areal penambangan Poboya yang rencananya akan dibawa ke Manado, Sulawesi Utara. Ini bukan kali pertama karena sebelumnya aparat juga menggagalkan aksi serupa dengan tujuan sama.

Kepala Kepolisian Sektor Palu Timur Ajun Komisaris Darno mengaku kondisi ini rawan benturan.

Direktur Eksekutif Walhi Sulteng Wilianita Selviana menambahkan, aktivitas sekarang bukan lagi tambang tradisional, tetapi sudah mengarah ke industri tambang skala kecil.

Poboya adalah salah satu hutan di Kota Palu dengan luas 200 hektar. Kawasan ini merupakan daerah penyangga air untuk Palu dan sekitarnya. Karena alasan ini, Pemerintah Kota Palu mengeluarkan rekomendasi untuk menutup tambang ini.

Pemerintah Provinsi Sulteng menanggapinya dengan berbagai langkah, termasuk mengundang tokoh masyarakat agar aktivitas penambangan dihentikan.

”Kami membatasi dan melarang, tetapi mereka terus berdatangan,” kata Mulhanan Tomboltutu, Wakil Wali Kota Palu.

Namun, kian banyak penambang yang berdatangan. Warga setempat pun seperti tak hirau. Sebagian malah mendapatkan keuntungan dari sewa tanah yang kebetulan berada di areal penambangan.

Sebagian mendapatkan penghasilan dari uang jasa keluar masuk areal pertambangan sebesar Rp 10.000 per orang, sewa tromol, atau buruh angkut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: