Dukung Pemurnian Komodo di Flores

Kompas 2009-07-30/E paper Halaman 13 Lingkungan & Kesehatan

Denpasar- Upaya pemurnian genetik komodo adalah rencana yang seharusnya didukung. Namun, dukungan itu hanya jika pemurnian, seperti diwacanakan Menteri Kehutanan MS Kaban, dilakukan di habitat aslinya, yakni di Flores, Nusa Tenggara Timur.

Penegasan itu disampaikan Rofino Kant, pemerhati lingkungan hidup yang juga Koordinator Gerakan Pelestarian Komodo Flores, di Ruteng, Rabu (29/7). Ia dimintai komentarnya terkait pernyataan MS Kaban, Selasa (28/7) di Jakarta. Kaban menyatakan, pemurnian genetik dilakukan sekaligus untuk penyelamatan komodo di Pulau Flores dari kepunahan. Komodo dinilai terancam karena habitat hidupnya mudah terbakar pada musim panas serta khawatir adanya konflik dengan masyarakat karena komodo memakan ternak warga (Kompas, 29 Juli 2009).

”Yang kami tolak kalau pemurnian genetik binatang langka itu dilakukan di Bali atau daerah lain. Kami sepenuhnya mendukung pemurnian langsung di habitatnya di Flores. Berarti harus disediakan fasilitas pendukungnya,” katanya.

Penegasan senada dilontarkan Bernadus Baratdaya, Koordinator Gerakan Masyarakat Antitambang Manggarai Barat, di Labuan Bajo. ”Sampai kapan pun kami menolak kalau pemurnian genetik dilakukan di daerah lain. Komodo harus tetap di habitat aslinya karena andalan pariwisata Flores, khususnya Manggarai Barat,” ujar Bernadus.

Rofino menambahkan, pengambilan komodo dari habitat aslinya di Flores sudah berkali-kali dilakukan Departemen Kehutanan untuk koleksi sejumlah taman safari di Tanah Air dan cendera mata bagi tamu negara. Kebun Binatang Gembira Loka di Yogyakarta dan Kebun Binatang Wonokromo, Surabaya, adalah dua contoh kebun binatang yang dilengkapi komodo.

”Ini adalah contoh kebijakan yang pincang. Komodonya dipindahkan ke daerah lain, sementara habitat aslinya dibiarkan terabaikan. Seharusnya habitat aslinya yang dibenahi sehingga komodo tetap berkarakter binatang buas dan ganas,” katanya.

Perbaikan habitat

Di Denpasar, Bali, sejumlah perwakilan mahasiswa NTT menyatakan, harus dilakukan perbaikan habitat asli komodo, khususnya di Wae Wuul, Manggarai Barat, NTT, sehingga tidak perlu membawa komodo ke Bali.

Ambrosius Ardin, Koordinator Kelompok Studi Mahasiswa Manggarai di Bali, mempertanyakan logika Kaban tentang pemindahan itu.

”Bukankah seharusnya habitat, jika dinilai rusak, lebih baik diperbaiki sehingga pemurnian genetik dapat dilakukan di sana. Lagi pula jumlahnya sudah minim, tinggal belasan ekor, diambil lagi 10 ekor, apa tidak akan mendorong habisnya satwa itu, terutama di Wae Wuul,” katanya,

Kalangan mahasiswa kembali mendesak pencabutan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 13 Mei 2009 yang mengizinkan penangkapan 10 ekor komodo dari Wae Wuul untuk pemurnian genetik di Taman Safari Bali. Pencabutan SK itu, menurut mereka, merupakan upaya konkret penyelamatan komodo.

Roby Gamar, mahasiswa yang lain, mengatakan, alasan lain penolakan masyarakat NTT adalah berlatar ekonomi pariwisata. Jika pemurnian genetik di Bali itu dikemas sebagai acara khusus, dikhawatirkan wisatawan yang ke NTT turun jumlahnya.

Sebaiknya, penolakan masyarakat itu diikuti upaya meningkatkan kinerja pemerintah. Kampanye pemilihan Pulau Komodo sebagai salah satu keajaiban dunia adalah momentum untuk melakukan itu,” kata Roby.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: