Coremap II Wakatobi Sadarkan Masyarakat Dengan Pemahaman

Kendari Ekspres 2009-08-30/Halaman 9 Baubau Ekspres

Dulu Pamali Sekarang DPL

Nama Wakatobi diambil dari rangkuman nama empat pulau utama di kawasan itu, Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko. Tahun 1996 perairan ini ditetapkan sebagai taman nasional.

Dulu daerah ini disebut Kepulauan Tukang Besi saat masih tergabung di Kabupaten Buton.

Kepulauan yang hanya memiliki daratan seluas 820 kilometer persegi, berpenduduk 100.000 jiwa, dan memiliki kawasan laut seluas 18.000 kilometer persegi itu mekar menjadi kabupaten sejak 2003.

Secara keseluruhan, kawasan Wakatobi menyimpan kekayaan berupa 396 spesies karang laut dan 600 spesies ikan. Terkaya di dunia.

Laporan: Abdullah, Wakatobi

Dalam membangun daerah ini Pemerintah Kabupaten Wakatobi telah menetapkan visi pembangunan ‘terwujudnya surga nyata bawah laut di jantung segitiga karang dunia’.

Visi ini mengandalkan leading sektor Kelautan Perikanan dan Budaya Pariwisata sebagai tulang punggung pembangunan ekonomi. Untuk itu yang menjadi perhatian pemerintah saat ini adalah bagaimana masyarakat dapat menikmati kekayaan laut melalui bisnis pariwisata dan usaha perikanan, tanpa merusak kelestarian ekosistemnya.

Hal ini tentulah tidak mudah, berbagai upaya ditempuh pemerintah termasuk menerima uluran kerja sama dari Coremap (Coral Reef Rehabilitation and Management Program), lembaga internasional yang peduli pada kelestarian terumbu karang.

Saat ini telah berjalan pada tahapan II. Upaya apa yang dilakukan Coremap II dalam melindungi kelestarian karang di Wakatobi?

Dari ketinggian 50 meter, mata kami langsung dimanjakan dengan pemandangan nan cantik menawan, pohon nyiur berjejer disepanjang pantai. Daun-daunnya menlambai seakan menyambut kedatangan kami.

Hamparan pasir putih di Pantai Huntete begitu asri tak tampak ada kehidupan disana. Meskipun daerah ini begitu luas dan datar. Cocok jika dijadikan sebagai perkampungan nelayan. Mengaksesnya pun kita hanya butuh waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan roda dua maupun empat dari Usuku Ibu Kota Kecamatan Tomia Timur Kabupaten Wakatobi.

Setelah menuruni ketinggian dan mendekat dibibir pantai rasa takjub kami akan karunia Allah SWT makin menjadi.

Gemericik air laut yang jernih dari obak-ombak kecil dipadu dengan hembusan angin menghasilkan nyanyian alam yang begitu merdu. Suasana ini makin membuat kami betah ditempat itu.

Hanya saja yang ada membuat saya berguman dalam hati, sedari tadi tak satupun nelayan terlihat mencari ikan disekitar tempat itu.

Pada hal kondisi laut begitu teduh, dan ikan terlihat berlompatan kesana-kemari, Pada hal sekitar satu kilo meter dari lokasi ini terdapat satu perkampungan yang diberi nama Desa Kulati.. Masuk wilayah administrasi Kecamatan Tomia Timur.

Mengobati rasa penasaran dalama hati, saya mendekati seorang bapak tua yang ternyata bernama Muhtar.

Darinya saya dapat mengorek informasi bahwa kawasan Huntete dan Karang Liangkuri-Kuri ini sejak dulu memang tak pernah dimanfaatkan oleh nelayan.

Pasalnya kawasan ini dikeramatkan oleh penduduk Pulau Tomia. Jangankan untuk mencari ikan, melintas saja tak boleh. Apalagi kalau mengenakan pakaian berwana merah dan sampai bersuara keras. Kalau ini berani dilanggar kontan orang tersebut akan menderita sakit keras dan meninggal.

Ansar SPi, Community Fasilitator Coremap II Wakatobi untuk wilayah Kecamatan Tomia Timur menuturkan, kini Pantai Huntete yang masuk dalam Kawasan karang Liangkuri-Kuri tak hanya menjadi tempat yang disakralkan penduduk setempat, tetapi telah ditetapkan sebagai kawasan Daerah Perlindungan Laut (DPL), pertimbangannya, kawasan ini patut dilindungi karena teridentifikasi sebagai tempat pemijahan ikan Sunu dan Napoleon.

Sementara dalam perspektif ekowisata daerah ini bisa dipakai sebagai daerah penyelaman dengan obyek berupa kapal yang karam dan tak kalah menariknya yaitu keindahan biota lautnya.

Upaya ini merupakan langkah pemaduserasian antarbudaya dan pembangunan kesadaran masyarakat akan pentinnya pelestarian karang, karena salah satu factor pendukung yang terpenting dalam proses pembangunan adalah budaya. Oleh karena itu pelaksanaan pembangunan hendaknya mengacu pada konsep yang melatarbelakangi nilai-nilai budaya masyarakat local.

Demikian pada upaya untuk penyelamatan lingkungan termasuk wilayah pesisir dan pedesaan. Berbagai hal yang menyebabkan masyarakat terus mengeksploitasi lingkungan adalah karena ketidakperdulian mereka akan lingkungan yang disebabkan karena ketidaktahuan mereka terhadap manfaat jika karang tetap lestari.

Bagi masyarakat pedesaan dan pesisir kerusakan lingkungan lebih dipacu oleh kebutuhan akan sumberdaya yang ada disekitar mereka yang merupakan sumber mata pencahariannya. Intensitas eksploitasi yang tinggi telah mendorong mereka untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan (bahan peledak dan racun) dan lebih diperparah lagi oleh adanya penambangan batu karang.

Eksploitasi akan dibatasi oleh adanya nilai-nilai budaya yang telah mengakar pada daerah tersebut contoh Kepercayaan mistis yang kerap kali membatasi ruang gerak dan terlebih itu bisa dibuktikan dengan apa yang dialami oleh masyarakat ketika melanggar aturan yang telah ditetapkan.

Pertanyaannya kini, sejauh mana kepercayaan yang dianut masyarakat tersebut akan bertahan. Mengingat perkembangan ilmu dan pengetahuan yang pesat saat ini.

Untuk itu perlu upaya membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga keberlangsungan sumberdaya laut berupa karang dan ikan atas dasar pengetahuan mereka tentang manfaat yang akan didapatkan jika karang tetap lestari.

Ediarto Rusmin BAE, Wakil Bupati Wakatobi mengatakan, sejak dulu masyarakat Wakatobi telah akrab dengan kehidupan laut dan menjadikan laut sebagai sumber kehidupan, sehinggal hampir seluruh masyarakat Wakatobi hidupnya tidak terlepas dari fungsi-fungsi laut.

Pengelolaan laut Wakatobi sebelum otonom belum ada hukum yang mengatur masih mengelola dengan perasaan namun sebagian daerah sudah mengelola dengan kearifan local dan berkembang dengan ditetapkanya Wakatobi sebagai Kawasan Taman Nasional saat masih bergabung dengan Kabupaten Buton.

Ketika daerah ini telah mandari dalam berbagai hal maka konsep DPL yang diperkuat dengan Perdes dan Perbup. Kabupaten Wakatobi memilah dua fungsi laut yakni laut sebagai fungsi konservasi dan fungsi ekonomi.

Burhanudin, Kepala Desa Kulati, juga menturrkan dulu masyarakat daerah ini sangat menjaga kawasan Liang Kuri-kuri. Mereka melakukannya karena tak mau ditimpa musibah (Pamali). Kini zaman telah berubah dan kepercayaan akan mitos juga akan berkurang tergilas arus globalisasi.

Penetapan DPL untuk wilayah ini merupakan langkah tepat, untuk lebih menjaga dan memelihara kelestarian kawasan Liangkuri-Kuri. Jika dulu masyarakat enggan melakukan kegiatan dikawasan ini karena tak mau terkena akibat dari pelanggarannya (pamali), melalui DPL saatnya masyarakat disadarkan untuk tak mengeksploitasi karang di kawasan ini berdasarkan pemahaman dan pengetahuan tentang apa yang akan diperoleh jika karang tetapi terjaga.

Masih dari Burhanuddin, berdasarkan kesepakan bersama masyarakat, pembagian kawasan Liangkuri-Kuri yang terdiri dari kawasan Pantai Huntete (daerah pemanfaatan), Uju (tanjung, dalam bahasa setempat) Sanga-sanga, Pasi Nikoalu (penyangga) dan Pasi Tee (daerah inti). Luasnya mencapai 10 ha.

Setelah berjalan beberapa tahun, manfaat dari penetapan DPL telah dirasakan masyarakat, diantaranya beberapa jenis ikan tertentu seperti ikan ole dan ikan lajang yang selama 3 tahun tidak pernah muncul, belakangan ini sudah kembali.

Demikian halnya dengan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan seperti bom, bius dan penambangan batu karang, karena pendampingan dan penyadaran secara intensif pada mereka kini tidak ada lagi masyarakat lokal yang melakukannya.

Dari fakta diatas, kita dapat berkesimpulan bahwa kearifan lokal terbukti ampuh memelihara alam dari kerusakan dari dulu hingga sekarang.

Saatnya memadukan konsep yang dilatarbelakangi nilai-nilai buday
a ini dengan konsep moderen seperti DPL, tetapi perlu diingat masyarakat harus disadarkan karena pengetahuannya akan manfaat yang diperoleh dari penerapan konsep tersebut. Terumbu karang lestari, ikan berlimpah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: