Penolakan Pemindahan Komodo Meluas

 

Kompas 2009-07-29/E-Paper: Lingkungan & Kesehatan Hal 13

Jakarta- Penolakan pemindahan komodo dari habitat aslinya semakin meluas. Setelah tokoh masyarakat, anggota DPRD, dan kelompok masyarakat di Nusa Tenggara Timur, Selasa (28/7), mahasiswa dan pelajar asal Nusa Tenggara Timur yang menempuh pendidikan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, menggelar demo penolakan pemindahan lima pasang komodo (Varanus komodoensis) dari habitat aslinya di kawasan konservasi Wae Wuul ke Pulau Bali.

”Mengapa harus dipindahkan ke Bali? Jika alasannya untuk pemurnian genetik, mestinya dikembangbiakan di habitat aslinya,” kata Syaiful Syarifudin selaku koordinator aksi yang didampingi Ketua Umum Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Islam (Hipmi) Nusa Tenggara Timur Yusuf Tamri.

”Jika alasannya habitat asli rusak dan kini berupa alang-alang yang mudah terbakar, mestinya segera dikonservasi,” kata Yusuf Tamri.

Dalam orasi yang digelar secara bergantian, mahasiswa dan pelajar NTT itu mendesak pencabutan Surat Keputusan Menteri Kehutanan tanggal 13 Mei 2009 yang mengizinkan penangkapan 10 ekor komodo dari habitat aslinya.

Mahasiswa dan pelajar NTT itu juga mendesak seluruh jajaran Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten/kota se-NTT untuk menolak SK Menteri Kehutanan itu.

”Kami mendesak Menteri Kehutanan agar lebih memilih lokasi pemurnian genetik komodo di habitatnya di Manggarai Barat, bukan di Bali karena Taman Nasional Komodo merupakan salah satu finalis tujuh keajaiban dunia,” ujar Syaiful.

Penyelamatan

Secara terpisah, Menteri Kehutanan MS Kaban mengatakan, pihaknya memahami berbagai tanggapan masyarakat ataupun pemerintah daerah terkait pemindahan 10 ekor komodo dari Pulau Flores ke Bali.

Menurutnya, pemerintah mengambil langkah ini untuk pemurnian genetik sekaligus penyelamatan komodo di Pulau Flores, yang kini tersisa 17 ekor, dari kepunahan.

Pemindahan juga penting karena komodo di Pulau Flores kini terancam. Hal itu karena komodo-komodo tersebut hidup di areal semak belukar penuh rumput kering yang pada musim panas sangat mudah terbakar. Persoalan lain adalah komodo mulai masuk ke perkampungan dan memangsa ternak masyarakat yang dapat memicu konflik.

Menteri Kehutanan MS Kaban mengungkapkan hal itu seusai membuka pelatihan ”Cintai Alam Indonesia 2009” bagi 300 aktivis badan eksekutif mahasiswa (BEM) perguruan tinggi di Jakarta, Selasa (28/7).

”Apabila komodo ini dibiarkan di habitatnya dengan kondisi kekurangan sumber makanan, suatu saat mereka akan habis secara alamiah karena terjadi kanibalisme. Pemerintah berpikir, memindahkan sementara ke tempat lain untuk ditangkarkan dan didata genetikanya supaya komodo di Pulau Flores jangan tunggu punah seperti harimau jawa dan harimau bali,” kata Kaban.

Komodo merupakan hewan langka yang hidup endemis tersebar di Pulau Flores, Pulau Rinca, dan Pulau Komodo. Populasi terbanyak berada di Pulau Rinca dan Pulau Komodo dengan jumlah sedikitnya 2.500 ekor.

Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori menambahkan, pemurnian genetik komodo tersebut akan bekerja sama dengan Taman Safari Indonesia di Bali yang memiliki fasilitas dan tenaga ahli konservasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: