Efek Defisit Air Ancam Bombana

Media Sultra 2009-07-29/Selekta Hal 12

Kendari– Masyarakat Bombana harus menghadapi defisit air permukaan dan air bawah tanah sebagai dampak dari penambangan.

Hal tersebut dikatakan, Utep, Kepala Seksi Program Daerah Aliran Sungai (DAS), Sampara kepada Media Sultra, Selasa (28/7).

“Dampaknya bukan sekarang tapi beberapa tahun kemudian pasti terasa, terutama untuk sektor perkebunan, dan pertanian” ungkapnya.

Sebaliknya, pada musim hujan ancaman banjir dan tanah longsor dapat terjadi karena rusaknya vegetasi di hulu dan disepanjang bantaran sungai.

Ancaman defisit air yang pang merasakan adalah petani. Karena selama ini kebutuhan air untuk mengairi sawah bergantung dari sungai yang telah rusak seperti sungai Tahi Ite.

Untuk menyikapi bahaya kekeringan, Pemkab Bombana mesti melakukan upaya dini seperti melakukan penataan kawasan tambang melakukan pengamanan kembali di sepanjang bantaran sungai.

Padahal mengacu aturan bagi sungai kategori besar 100 meter dari badan sungai tidak boleh melakukan penataan kawasan tambang, melakukan penanaman kembali sepanjang bantaran sungai.

Padahal mengacu pada aturan bagi sungai kategori besar 100 meter dari badan sungai tidak boleh melakukan perusakan hutan, begitupula di sungai kecil jarak 50 meter tidak boleh melakukan perusakan hutan.

Tapi faktanya dilapangan sungai-sungai sudah rusak berat. Sebelumnya padi sawah di SP 8 dan disekitar areal pertambangan mengeluhkan kekurangan aiar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: