8 Nelayan China Dideportasi

Kompas 2009-07-29/E-Paper: Nusantara hal 24

Pontianak – Delapan nelayan China yang sebulan lalu ditangkap karena mencuri ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Selasa (28/7), dideportasi ke negara asal mereka.

Selama ini, nelayan tersebut ditampung di rumah detensi imigrasi yang berada di Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak, Kalimantan Barat.

”Delapan nelayan China yang dideportasi itu adalah kepala kamar mesin. Mereka diperiksa sebagai saksi. Delapan orang lainnya, yang juga ditangkap sebulan lalu, adalah nakhoda kapal.

Mereka hingga saat ini masih ditahan,” kata Perwira Operasi Pangkalan TNI Angkatan Laut Pontianak Kapten Laut (P) Ashari, yang menangani penyidikan kasus pencurian ikan nelayan China tersebut.

Pemulangan nelayan China itu menggunakan pesawat komersial dari Pontianak ke Jakarta dengan kawalan petugas Imigrasi Pontianak. Setelah diserahkan ke Kedutaan Besar China di Jakarta, pada hari yang sama mereka diterbangkan ke Nanning Guangxi. Seluruh biaya pemulangan ditanggung Kedubes China.

Sebagaimana diberitakan, 75 nelayan China yang diduga kuat mencuri ikan di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia di Laut China Selatan pada 20 Juni 2009 ditangkap petugas patroli Departemen Kelautan dan Perikanan.

Saat itu mereka menggunakan delapan kapal yang masing-masing berbobot mati 300 ton.

Sebanyak 59 anak buah kapal di antaranya awal Juli lalu telah dideportasi bersama 12 nelayan China yang terdampar di pesisir pantai Kalimantan Barat.

Pelengkapan berkas

Menurut Ashari, proses penyidikan delapan nakhoda kapal yang menjadi tersangka masih dalam tahap pelengkapan berkas. Rencananya, berkas penyidikan itu dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Pontianak awal Agustus mendatang. Persisnya, setelah barang bukti delapan kapal nelayan China tersebut dilelang.

”Kami masih menunggu hasil penaksiran harga limit (terendah) masing-masing kapal oleh konsultan PT Bahan Apresindo serta penaksiran dari DKP (Departemen Kelautan dan Perikanan). Setelah diketahui harga limitnya, kapal segera dilelang,” papar Ashari.

Kepala Stasiun Pengawas Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Pontianak Bambang Nugroho mengatakan, DKP memilih opsi melelang barang bukti delapan kapal China itu dan tidak akan mengajukan pemanfaatan kapal setelah dirampas negara.

Hal ini dilakukan, kata Bambang, dengan pertimbangan, pengajuan DKP terhadap barang bukti enam kapal China yang ditangkap tahun lalu belum juga terealisasi karena masih menunggu putusan Mahkamah Agung.

”DKP berharap, delapan kapal nelayan China itu masing-masing bisa laku terjual Rp 3 miliar. Di pasaran, saat ini harga kapal ikan sejenis dalam kondisi yang sama bisa laku Rp 5 miliar,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: