Jumlah Titik Panas di Kalteng Bertambah

Kompas 2009-07-28/E-paper: Nusantara hal 22

Palangkaraya- Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Tengah terus memantau perkembangan titik panas di daerah itu yang cenderung bertambah. Selama Juli terpantau 127 titik panas, melebihi jumlah titik panas di provinsi itu dalam kurun Januari- Juni sebanyak 117 titik panas.

”Kami khawatir titik panas akan terus meningkat, apalagi kemarau diprediksi masih akan berlangsung 3-4 bulan ke depan,” kata Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Gunawan Budi di Palangkaraya, Senin (27/7).

Sebulan ini, Manggala Agni BKSDA Kalteng memadamkan 143,80 hektar lahan yang terbakar. Manggala Agni menggunakan data citra satelit National Oceanic and Atmospheric Administration sebagai informasi awal untuk melakukan pengecekan lapangan.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Laboratorium Lingkungan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Kota Palangkaraya Andrie Manurung mengatakan, selama Juni kualitas udara di ibu kota Kalteng itu baik.

”Namun, Juli ini ada tiga hari yang kualitas udaranya mulai turun menjadi sedang, yakni tanggal 17, 19, dan 22 Juli,” kata Andrie.

Turunnya kualitas udara tersebut seiring makin tingginya kadar partikel berukuran kurang dari 10 mikron di udara, yang diduga akibat asap kebakaran lahan di seputar Palangkaraya.

Sementara itu, sedikitnya 104 hektar hutan di wilayah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Surakarta, Jawa Tengah, rawan kebakaran. Hal itu terjadi karena pohon di hutan itu sudah jarang sehingga banyak alang-alang atau perdu tumbuh.

Saat kemarau, alang-alang atau perdu rawan terbakar, baik akibat saling bergesekan maupun kelalaian manusia. Pada tahun 2008 terjadi kebakaran di hutan seluas 249,15 hektar.

Kepala Perum Perhutani KPH Surakarta Dwidjono Kiswuryanto didampingi Kepala Urusan Humas Andriyono, Senin, mengatakan, area hutan yang juga rawan terbakar adalah yang terambah manusia, seperti yang menjadi jalur pendakian atau wilayah pencarian kayu bakar.

”Selama ini kebakaran lebih banyak disebabkan kelalaian manusia, misalnya membuang puntung rokok sembarangan atau menyalakan perapian yang tidak dimatikan dengan sempurna,” kata Dwidjono.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: