Penambangan Emas di Poboya Masih Marak

Kompas 2009-07-27/E-Paper: Nusantara hal 23

Palu- Kendati Pemerintah Kota Palu, Sulawesi Tengah, sudah melarang penambangan emas di Kelurahan Poboya, Palu Timur, hingga kini penambangan masih berjalan. Bahkan, penambangan makin marak dengan hadirnya penambang dari Gorontalo dan Sulawesi Utara.

Pantauan Kompas, Jumat (24/7), sejumlah truk besar, mobil bak terbuka, dan kendaraan roda dua keluar-masuk areal pertambangan dan kampung terdekat, mengangkut karung-karung berisi pecahan batu. Di areal pertambangan itu, puluhan orang memecah batu, mendulang emas, dan mengepak bongkahan batu ke dalam karung.

Sejumlah penambang mengaku baru datang ke lokasi itu sepekan terakhir. Mereka kebanyakan berasal dari sejumlah kabupaten di Gorontalo, Sulawesi Utara, serta Sulawesi Selatan.

Di areal penambangan, pendatang umumnya mendirikan tenda- tenda darurat berbahan terpal plastik. Di tenda itulah mereka tinggal sementara dan menampung batu-batu yang sudah digali.

”Torang (kami) baru seminggu di sini. Rumah di Gorontalo kami tutup, mau bacari (mencari) emas di sini. Dari Gorontalo kami lima orang. Ini baru bagali (menggali) satu hari sudah dapat,” kata Ati Hasan (48), warga Kecamatan Sumalata, Kabupaten Gorontalo Utara.

Abai

Hal senada dikemukakan Riman (45) yang datang dari Marisa, Gorontalo. Ia mengaku datang ke tempat itu bersama empat rekannya.

”Namanya cari peruntungan. Mudah-mudahan dapat. Kalau di sini tak ada emas, buat apa torang samua batahan (bertahan) di sini,” katanya.

Warga setempat terkesan abai atas penghancuran lingkungan. Yang lebih memprihatinkan, mereka justru bekerja sama dengan pendatang.

Pada umumnya, alat penghancur batu atau lazim disebut tromol ditempatkan atau dimiliki warga yang tinggal di kampung terdekat dengan areal penambangan.

Dari permukiman penduduk, jarak ke lokasi penambangan sekitar 10 kilometer. Biasanya, proses menghancurkan batu dengan tromol dan pencucian menggunakan merkuri, dan ini melibatkan penduduk. Dari proses inilah muncul bulir-bulir emas yang siap dijual kepada pengusaha emas.

Sebagian penduduk juga mendapatkan pemasukan dari uang masuk ke lokasi sebesar Rp 10.000 per orang. Kendaraan berupa truk dan mobil bak terbuka dikenai pungutan Rp. 10.000-Rp 15.000 sekali masuk.

Sejumlah pemilik lahan mendapatkan pemasukan dari tenda-tenda yang didirikan pendatang. Pendirian tenda dikenai biaya Rp 200.000 per bulan. Kini di areal penambangan berdiri sekitar 200 tenda.

Wakil Wali Kota Palu Mulhanan Tombolotutu mengatakan, kewenangan menutup dan melarang aktivitas pertambangan berada di Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

”Yang pasti, kami sudah mengeluarkan rekomendasi agar areal penambangan ini ditutup, terutama bagi pendatang,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: