130 Ha Hutan di Sumbar Terbakar

Kompas 2009-07-27/E-Paper: Nusantara hal 23

Padang- Sekitar 130 hektar hutan di Kecamatan Harau dan Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat, terbakar sejak Rabu.

Kobaran api yang sulit dikendalikan itu sudah mendekati kawasan wisata Lembah Harau dan permukiman penduduk.

Asisten Sekretariat Daerah Kabupaten Limapuluh Kota Resman Kamars, Minggu (26/7), mengatakan, hujan buatan yang turun Sabtu pukul 15.00 hingga Minggu dini hari cukup berhasil meredakan kobaran api di hutan Lubuk Bangku, Kecamatan Harau, tersebut. Namun, bara api tetap diwaspadai karena masih berpotensi membakar hutan.

”Petugas pemadam kebakaran tidak bisa mencapai lokasi karena kebakaran terjadi di perbukitan yang terjal. Petugas pemadam kebakaran dari Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh hanya berjaga-jaga di permukiman penduduk terdekat yang dihuni ratusan warga.

Karena tidak ada petugas pemadam yang bisa mencapai ke lokasi, kebakaran hutan berlangsung berhari-hari,” papar Resman.

Berjaga-jaga

Hingga kemarin petang warga serta petugas pemadam kebakaran terus berjaga-jaga, mengantisipasi rambatan api. Resman berpendapat, upaya yang paling efektif untuk mengurangi kobaran api di hutan itu adalah pembuatan hujan buatan.

Kebakaran, selain sudah mendekati permukiman penduduk, juga berjarak sekitar 1 kilometer dari Lembah Harau. Bila kobaran api mencapai kawasan wisata Lembah Harau, pariwisata unggulan di Limapuluh Kota ini dikhawatirkan terpuruk.

Kabut asap

Kebakaran hutan selama lima hari terakhir ini juga cukup berdampak pada lalu lintas karena bukit yang terbakar berjarak 100-200 meter dari jalan raya. Pada dua hari awal kebakaran, jarak pandang di jalur lintas Sumbar-Riau sempat mencapai 100 meter.

Tokoh masyarakat Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan, mengatakan, asap sempat membuat lalu lintas di jalur lintas Sumatera itu menjadi macet.

”Minggu, asap yang menyelimuti kawasan hutan yang terbakar sudah menipis,” katanya.

”Saat asap tebal, pandangan mata sangat kurang. Apalagi jalan lintas diapit oleh bukit yang terbakar di satu sisi serta jurang di sisi lain sehingga kendaraan hanya bisa melaju pelan-pelan. Inilah yang menyebabkan kemacetan di jalur lintas,” kata Ferizal yang juga Ketua Yayasan Pedati Emas, sebuah lembaga swadaya masyarakat di bidang pemberdayaan ekonomi kehutanan.

Ferizal memperkirakan kebakaran hutan tersebut dipicu keinginan sebagian warga untuk membuka lahan pertanian.

Kebakaran cepat meluas karena vegetasi yang ada di kawasan hutan itu kering setelah hujan jarang turun selama dua bulan terakhir.

”Sebaiknya pemerintah daerah mengontrol pembukaan lahan oleh masyarakat untuk menghindari kebakaran hutan seperti saat ini,” ujar Ferizal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: