Fokus di Sekitar Bandara

Kompas 2009-07-24/E-paper: Nusantara hal 23

Pontianak- Penanganan asap yang menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat, kini difokuskan pada pencegahan kebakaran lahan di sekitar Bandara Supadio.

Selain meminimalkan gangguan asap terhadap aktivitas bandara, juga untuk menekan memburuknya kualitas udara.

”Asap di Pontianak karena pembakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya yang mengelilingi Kota Pontianak,” kata Kepala Bidang Perlindungan Hutan, Dinas Kehutanan Kalimantan Barat, Sunarno, yang juga Sekretaris Posko Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kalbar, Kamis (23/7).

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Badan Lingkungan Hidup Kalbar Wuyi Bardini menyatakan, pembakaran lahan di sekitar Kota Pontianak banyak yang tidak terpantau satelit sebagai titik panas karena tidak begitu luas. Namun, asap yang ditimbulkan cukup banyak.

Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya, yang juga Ketua Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kalbar, mengeluarkan imbauan resmi bagi petani serta perusahaan perkebunan dan kehutanan agar tidak membakar lahan.

Pembakaran lahan di Kalbar sebenarnya dilarang sejak 11 tahun lalu sesuai Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 1998 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan.

Di Palangkaraya, Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang saat memimpin apel siaga pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan, lahan, dan pekarangan menyatakan, dalam enam bulan terakhir, titik panas mencapai 223 buah.

Titik api tersebar di 12 kabupaten/kota. Hanya Kabupaten Murung Raya yang belum terdeteksi ada titik panas.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalteng Mega Hariyanto mengatakan, Manggala Agni BKSDA Kalteng sudah memadamkan api yang membakar lahan seluas 157 hektar.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Anang Acil Rumbang mengatakan, luas hutan produksi kritis yang rawan terbakar di Kalteng sekitar 700.000 hektar.

Insentif

Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun menyiapkan insentif bagi polisi hutan dan warga yang bisa menangkap orang yang sengaja membakar hutan. Namun, Administratur KPH Madiun Kristomo mengatakan, besar insentif belum ditentukan.

Berdasarkan data yang diperoleh dari KPH Madiun, tahun 2007, luas areal hutan yang terbakar 1.443 hektar dan menimbulkan kerugian Rp 173 juta.

Tahun 2008, luas areal hutan yang terbakar 1.823 hektar dengan nilai kerugian Rp 219 juta.

Menurut Kristomo, pihaknya meminta bantuan masyarakat pengelola sumber daya hutan membantu mendeteksi titik api yang muncul. Ketua masyarakat pengelola sumber daya hutan Ngudi Waluyo di Wungu, Agus Purwanto, membenarkan hal tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: