Dorong Perubahan, Munculkan Komitmen

Kompas 2009-07-24/E-paper: Ilmu Pengetahuan  hal 40

Oleh : Brigitta Isworo L

Ada peringatan dari para ilmuwan bahwa suhu permukaan Bumi tidak boleh lebih tinggi dari 2 derajat celsius.

Jika hal itu terjadi, lebih dari 300 juta orang akan terusir dari tempat tinggalnya sekarang karena ribuan pulau akan tenggelam, kekeringan semakin parah, dan penyakit akan semakin meluas. Iklim yang semakin sulit diprediksi akan mengakibatkan banyak orang kehilangan mata pencarian, seperti nelayan dan petani di garis depan.

Upaya mencegah naiknya suhu Bumi penyebab perubahan iklim tersebut mendapat komitmen resmi dari sejumlah negara dengan lahirnya Protokol Kyoto 1997. Secara kelompok, negara-negara maju yang tergabung dalam kelompok Annex I memiliki komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca—penyebab kenaikan suhu Bumi global—rata-rata 5 persen dari basis yang ditetapkan, yaitu tahun 1990. Kondisi itu harus tercapai tahun 2012. Namun, upaya itu berjalan amat lambat.

Pertemuan G-8 yang berakhir pertengahan bulan ini tidak membawa angin baru ketika negara-negara maju yang diwajibkan membantu negara-negara miskin dan berkembang ternyata menahan kucuran dananya (Kompas, 16/7).

”Negara-negara maju tak mau membuka dompetnya. Kami kecewa dengan perkembangan terkini,” ujar Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar ketika itu.

”Kecenderungannya, mereka bertahan hingga menjelang pertemuan Kopenhagen akhir tahun ini,” tambahnya. Dia tak menutupi rasa kecewanya menghadapi perilaku negara-negara kaya. Pemerintah Inggris yang sudah siap mengucurkan dana hanya sendirian di posisi itu.

Dengan cara pandang lain, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat Al Gore, yang didukung lembaga swadaya masyarakat The Climate Project dan kini giat menyebarkan informasi tentang ancaman perubahan iklim ke berbagai kalangan, menolak bersikap pesimistis (The Age, 13/7).

”Sekarang AS dan Australia telah menunjukkan kepemimpinannya, yang selama ini paling dibutuhkan. Adanya mereka dalam upaya (kesepakatan) Kopenhagen akan mampu membuat perbedaan yang amat besar,” ujarnya di Melbourne, Australia, di sela-sela Pertemuan Puncak Asia Pasifik untuk Perubahan Iklim.

Al Gore hadir di Melbourne untuk meluaskan jangkauannya dengan melatih sekitar 3.000 orang dari sejumlah negara untuk mengikuti jejaknya berkampanye tentang perubahan iklim pada 11-13 Juli lalu di Melbourne.

Adil dan memadai

Sesuai dengan Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim (UNFCCC) disebutkan setidaknya ada empat target capaian pada pertemuan Pertemuan Para Pihak Ke-15 (COP-15) di Kopenhagen, Denmark. Harus ada kemajuan dalam keempat bidang tersebut agar perjalanan untuk membentuk kesepakatan baru sebagai pengganti Protokol Kyoto, yang akan selesai berlakunya pada 2012, berlangsung mulus.

Saat ini ada tiga negara yang dipandang sebagai negara dengan ekonomi yang berkembang pesat dan dipandang tidak sepantasnya masuk kelompok negara berkembang, yaitu China, India, dan Brasil.

Ketiga negara itu diminta juga menanggung beban tanggung jawab yang sama dengan negara-negara maju dalam urusan pengurangan emisi karbon (gas rumah kaca).

Ketika dunia sedang berkutat untuk mengatur langkah besarnya yang menghadapi jalan terjal, lalu apa peran kita? Penyebarluasan informasi mengenai perubahan iklim dan relevansinya dengan kehidupan keseharian diharapkan menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan yang dapat menghasilkan perubahan, yang berujung pada perubahan sikap negara-negara yang bernegosiasi di Kopenhagen, Desember nanti.

Dalam konteks itulah Al Gore melakukan pelatihannya. Indonesia mengirimkan 54 orang untuk mengikuti pertemuan puncak tersebut. Penyebarluasan informasi tentang perubahan iklim telah menyentuh sekitar 5 juta orang di dunia dan di Indonesia mencapai lebih dari 9.000 orang dari berbagai kalangan, antara lain ilmuwan, nelayan, mahasiswa, berbagai perusahaan mulai dari bankir hingga perusahaan tambang, juga para artis.

Kini, dengan jumlah sukarelawan presenter 55 orang, diharapkan bisa lebih luas lagi lapisan masyarakat Indonesia yang terjangkau informasi tersebut. Mereka yang mendengar diharapkan bisa menjadi agen perubahan. Tujuan besarnya adalah perubahan sikap negara-negara di Kopenhagen mendatang ketika ada tekanan dari masyarakat.

”Kita harus merebut peluang memecahkan persoalan perubahan iklim. Saya yakin jika ada kesadaran meluas, kita akan bisa mendorong pemerintah untuk memecahkan persoalan ini,” ujar Al Gore.

Razak Manan, salah satu peserta pelatihan yang aktif di Perusahaan Pelayaran Indonesia, menegaskan keteguhannya menyebarluaskan isu perubahan iklim.

”Hal ini amat penting diketahui terutama di kalangan perusahaan pelayaran. Saya berharap ada perubahan yang bisa dibuat oleh mereka yang bisa menjadikan kondisi lebih baik.”

Sementara itu, beberapa peserta pelatihan, seperti Widodo Ramono dari Indonesian Rhino Conservation Foundation, telah melakukan presentasi di lingkungan kerjanya serta sejumlah pejabat pemerintahan. Demikian pula Dicky Edwin Hindarto dari Dewan Nasional Perubahan Iklim, yang melakukan presentasi di kalangan akademisi di Institut Teknologi 10 November, Surabaya, seperti dia tuliskan dalam surat elektroniknya.

Pemimpin Dewan TCP Indonesia, yang berdiri pertengahan Juli lalu, yang juga presenter pertama TCP Indonesia, Amanda Katili, mengatakan, seluruh lapisan masyarakat yang ingin mendapatkan informasi tentang perubahan iklim bisa menghubungi anggota TCP Indonesia. Selengkapnya, nomor kontak TCP Indonesia dapat diakses di Kompas.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: