Titik Api Kepung Bandara

Kompas 2009-07-23/E-paper: Nusantara hal 23

Pontianak– Pembakaran lahan pertanian gambut di sekitar Bandara Supadio, Pontianak, marak sepekan terakhir. Pantauan Brigade Pemadam Kebakaran Hutan Manggala Agni Daerah Operasi Pontianak menunjukkan, setiap hari ada 70-80 titik api di wilayah itu.

Namun, asap yang mengepul di lahan pertanian yang berada di Kabupaten Kubu Raya itu belum sampai mengganggu operasional Bandara Supadio, Pontianak.

Menurut Kepala Daop Manggala Agni Pontianak Asmadi, Rabu (22/7), sejumlah 60 petugas Manggala Agni disiagakan 24 jam sehari untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran merambat ke hutan atau areal konservasi.

Sebanyak 15 petugas lain dikerahkan untuk berpatroli di Cagar Alam Mandor dan Gunung Nyiut.

Brigade Manggala Agni di Kalimantan Barat juga memberlakukan siaga satu menyusul peningkatan jumlah titik panas yang terpantau lewat satelit.

Data titik panas yang diterima dari Departemen Kehutanan menyebutkan, jumlah titik panas di Kalbar dalam empat hari terakhir mencapai 245 titik.

Khusus hari Rabu, titik panas terpantau di 68 lokasi. Penyumbang titik panas terbesar adalah Kabupaten Sintang (61 titik) disusul Kapuas Hulu (44 titik), Bengkayang (26 titik), dan Sambas (23 titik).

Asap hasil pembakaran lahan mulai mengganggu kesehatan warga Kota Pontianak. Seorang warga, Dian Rahmawati, mengaku, asmanya kambuh akibat kabut asap yang menyelimuti kota pada malam dan pagi hari dalam beberapa hari terakhir. Ia terpaksa mengeluarkan biaya untuk berobat.

Wakil Wali Kota Pontianak Paryadi menyatakan, kabut asap tidak hanya merugikan kesehatan warga, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi.

Sejumlah 23 puskesmas di Kota Pontianak disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan penderita infeksi saluran pernapasan akut. Pemerintah Kota membagikan 9.000 masker gratis kepada warga.

Kebakaran di Madiun

Sejumlah titik api juga mulai muncul di hutan wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Madiun. KPH Madiun membentuk satuan tugas di tiap resor pemangkuan hutan (RPH) untuk mengantisipasi agar kebakaran hutan tidak meluas.

Hari Rabu, dua titik api terlihat di RPH Wates dan RPH Blabakan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Caruban, KPH Madiun. Api membakar daun jati yang gugur, semak-semak, dan bagian bawah batang pohon jati berusia sekitar lima tahun di lahan seluas sekitar lima hektar.

Belum tampak petugas RPH yang memadamkan api meski kebakaran terus meluas karena tiupan angin kencang.

Wugimin, orang yang biasa mencari rumput di RPH Blabakan, dan Sayem, warga Desa Blabakan, tidak tahu kapan api muncul. ”Namun, kebakaran seperti itu terjadi setiap musim kemarau,” kata Sayem.

Warga Desa Blabakan yang rumahnya berada dekat areal hutan yang terbakar diam saja melihat kebakaran. Menurut mereka. biasanya api mati sendiri.

Selain itu, ada empat titik areal hutan di RPH Wates yang tampak bekas terbakar. Lokasinya di samping jalan tembus Kecamatan Kare-Caruban. Menurut warga, kebakaran terjadi dua hari lalu.

Berdasarkan catatan KPH Madiun, setiap musim kemarau titik api selalu muncul di BKPH Caruban, BKPH Mojorayung, Ngadirejo, Sumoroto, dan Sukun.

Wakil Kepala Administratur KPH Madiun Dedi Siswandhi mengatakan telah membentuk satuan tugas (satgas) di setiap RPH, seluruhnya berjumlah 39 RPH di KPH Madiun. Setiap satgas terdiri dari tujuh personel.

”Kami tekankan kepada satgas untuk berpatroli pada pukul 11.00 sampai pukul 15.00 karena saat itu biasanya titik api muncul,” kata Dedi.

Menurut dia, ada dua kemungkinan titik api muncul setiap kemarau, yaitu pencari rumput atau kayu bakar di hutan tidak sengaja membuang puntung rokok yang menyala atau dibakar pencuri kayu untuk mengalihkan perhatian polisi hutan. Karena itu, tiap terjadi kebakaran, pihaknya juga mewaspadai pencurian kayu.

Terbatasnya jumlah petugas membuat antisipasi kebakaran tidak maksimal. Setiap petugas harus menjaga 140 hektar hutan. KPH Madiun mengharapkan peran serta masyarakat yang tinggal di tepi hutan untuk membantu memberi tahu petugas saat kebakaran terjadi atau ikut memadamkan titik api.

Siap antisipasi

Memasuki musim kemarau, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat Wilayah III siap mengantisipasi kebakaran hutan di kawasan konservasi. Semua personel dan peralatan pemadaman disiapsiagakan untuk menangani kebakaran hutan.

Hal tersebut dinyatakan Kepala Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Jabar Wilayah III Pandji Yudistira, Rabu di Kabupaten Ciamis.

Wilayah kerja BKSDA Jabar Wilayah III meliputi Kabupaten Garut, Kabupaten/Kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Kuningan. Sebanyak 132 petugas BKSDA di kabupaten/kota siap jika terjadi kebakaran hutan.

Selama ini, kawasan konservasi yang rawan kebakaran berada di Kabupaten Garut. Kawasan hutan yang kerap terbakar di Garut adalah hutan di Kamojang, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, dan Sancang.

Menurut Pandji, penyebab kebakaran hutan di Garut umumnya adalah gesekan semak belukar kering sehingga menimbulkan api.

Kepala Bidang Informatika Sekretariat Daerah Kabupaten Garut Dikdik Hendrajaya mengatakan, Pemerintah Kabupaten Garut belum berkoordinasi dengan BKSDA maupun Perhutani untuk mengantisipasi kebakaran hutan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: