Petani Kawal Air Waduk

Kompas 2009-07-22/E-paper: Nusantara hal 22

Ngawi- – Petani di Desa Karangmalang, Kecamatan Kasreman, Ngawi, Jawa Timur, mengawal air yang digelontorkan dari Waduk Kedungombo, Ngawi, agar sampai ke lahan pertanian mereka.

Hal itu dilakukan karena terbatasnya air untuk mengairi areal pertanian pada musim kemarau ini.

Petani khawatir, jika air yang digelontorkan dari waduk untuk 120 hektar lahan pertanian di Karangmalang tidak dikawal, air akan diambil petani yang areal pertaniannya dekat waduk.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Karangmalang Kasbi, Selasa (21/7), mengatakan, pengambilan air di saluran irigasi sering dilakukan petani yang sawahnya dekat dengan waduk.

Pengambilan air yang dilakukan di luar jadwal itu merugikan petani Karangmalang. Air yang sampai ke Karangmalang tak cukup mengairi 120 hektar lahan.

Di Desa Sukowiyono, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi, petani telah menggunakan sumur pompa untuk mengairi lahan pertanian mereka. Air dari Waduk Pondok tidak sampai ke desa mereka.

”Janjinya, dalam satu minggu ada satu kali pengairan dari waduk, kenyataannya air dari waduk hanya 15 hari sekali. Itu pun jumlahnya sedikit,” kata Tasrif, petani di Sukowiyono.

Penggunaan pompa juga dilakukan ratusan petani jagung di Kota Kediri dan Kabupaten Kediri. Petani ingin menyelamatkan tanaman yang hampir mati akibat kekeringan. Ponidi (36), warga Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota Kediri, mengatakan, baru hari pertama ia menggunakan pompa.

”Biaya penggunaan pompa untuk satu hektar tanaman jagung sampai panen Rp 2 juta-Rp 3 juta,” ujarnya.

Kepala Desa Sendang, Kecamatan Banyakan, Kediri, Abdul Roziq mengatakan, di desanya luas lahan sawah yang mengalami kekeringan mencapai 100 hektar dari luas total lahan 163 hektar.

Di Bojonegoro, persediaan air di Waduk Pacal masih cukup bagus karena musim hujan mundur. Adapun tingkat penarikan air Bengawan Solo dengan mesin pompa juga cukup tinggi.

Pompa air saat ini pun menjadi andalan petani di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menyusul surutnya air irigasi. Penggunaan pompa meluas, mulai dari hilir hingga wilayah tengah.

Prakim (18), petani yang mempunyai sawah setengah hektar di Desa Kreo, Kecamatan Klangenan, mengatakan, tanpa pompa, air tidak bisa mengalir ke sawahnya.

”Air sawah sudah habis. Kalau tidak dipasok air, hasil padi bisa kurang bagus,” katanya.

Sebagian besar petani yang menanam jagung di Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, juga terpaksa memanfaatkan sisa-sisa air sungai untuk menyirami jagung.

Di Desa Gapurno, misalnya, petani memanfaatkan sisa air Sungai Lusi dengan cara menyedot dan menampung di sungai kecil dekat lahan jagung. Padahal, jarak Sungai Lusi dengan lahan jagung sekitar lima kilometer.

Air bersih

Sementara itu, ratusan warga Desa Hegarmanah dan Desa Sindangraja, Kecamatan Sukaluyu, Cianjur, Jabar, sebulan ini kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus antre di sumber air untuk mendapat air bersih.

Di Sumatera Selatan, salah satu permukiman buruh yang mengalami kekeringan parah terdapat di Kecamatan Alang-alang Lebar, Palembang, dan Kecamatan Talang Kelapa, Banyuasin.

Sumur di kawasan ini tidak hanya surut, tetapi juga airnya keruh dan payau sehingga tidak layak dikonsumsi.

Di Desa Ndetundora 2, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, sebagian tanaman banyak yang mati atau kerdil pertumbuhannya akibat kekurangan air.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: