Di Mana-mana, Manusia Menolak Salma

Kompas 2009-07-22/E-paper: Nusantara hal 22

Minggu (19/7), tepat satu pekan Salma, harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), berada di kawasan Tampang Belimbing, Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, setelah dipindah dari Kebun Binatang Taman Rimbo, Jambi.

Salma menjalani masa adaptasi dalam kandang introduksi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) yang dikelola PT Adhi Niaga Kreasi Nusa selama dua pekan sebelum dilepasliarkan.

Pelepasliaran akan jadi lembaran hidup baru bagi Salma setelah empat bulan mendekam dalam kandang karantina di kebun binatang.

Salma ditangkap petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi awal Februari 2009 karena diduga menyerang 11 orang hingga tewas dalam rentang sebulan.

Selama sepekan terakhir pada masa adaptasinya, informasi mengenai harimau betina itu sangat minim.

Yang santer tersiar justru penolakan masyarakat Pengekahan yang tinggal di kantong permukiman berbatasan dengan TWNC di Bengkunat Belimbing.

Bagi mereka, kedatangan Salma meningkatkan kekhawatiran dan ketakutan. ”Apalagi, kami tahu Salma pernah menyerang orang hingga tewas di Jambi. Kami betul-betul menolak pemindahan Salma ke Belimbing,” kata Sai Batin (tokoh adat marga Belimbing), Zulqoini Syarief.

Belajar dari pengalaman dua harimau sumatera asal Aceh yang setelah dilepasliarkan lantas menyerang kambing dan ayam, warga Pengekahan yakin Salma bisa mengulang kebiasaannya.

”Lebih baik Salma dikembalikan ke Jambi,” katanya.

Zulqoini menuturkan, ada 164 keluarga tinggal di Pengekahan. Wilayah kampung ditandai tapal batas dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Hal itu tertera dalam surat adat dan peta Belanda tahun 1934.

”Kami terbiasa hidup berdampingan dengan satwa liar, termasuk harimau TNBBS Lampung. Tetapi, tidak dengan harimau daerah lain,” katanya.

Menurut Hidayatur Rohman, warga Pengekahan, hal lain yang membuat warga menolak adalah, pengelola TWNC akan semakin membatasi ruang gerak warga. Warga akan kesulitan menjual hasil kebun mereka lewat laut.

Padahal, jalur laut dari Pengekahan melewati Belimbing adalah satu-satunya jalur menuju Kota Agung, Tanggamus.

Pemerhati harimau sumatera dari Zoological Society of London, Dolly Priatna, mengatakan, sepertinya sudah tidak ada tempat aman bagi harimau. Aktivitas manusia semakin ramai masuk ke hutan.

Sumber-sumber makanan harimau menipis, berganti dengan perkebunan sawit dan karet. Ruang jelajah satwa liar ini kian menyempit.

Menurut Dolly, konflik dapat diredam jika sejak awal ada penumbuhan kesadaran bagi masyarakat bahwa mereka hidup berdampingan dengan harimau.

Kepala BKSDA Provinsi Jambi Didy Wurjanto memastikan konflik antara masyarakat dan Salma tak akan berulang.

Pelepasan Salma di Tambling hanya sementara. Setelah masa adaptasi, Salma bersama harimau jantan asal Aceh akan dilepas ke hutan yang lebih jauh di TNBBS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: