Hujan Mulai Turun, Riau Masih Berkabut

Kompas 2009-07-21/E-paper: Nusantara hal 22

Pekanbaru – Untuk pertama kalinya pada Juli 2009, hujan turun di Kota Pekanbaru dan sebagian wilayah Riau lainnya pada Minggu (19/7) malam. Namun, curah hujan belum dapat memadamkan semua titik api di wilayah tengah Pulau Sumatera itu.

Senin (20/7) pagi, kabut asap menyelimuti sebagian wilayah Riau, terutama Pekanbaru. Jarak pandang sangat pendek sehingga Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II ditutup sementara.

Staf Analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru, Warih S, menyatakan, jarak pandang pada Senin pagi hanya 300 meter. Dengan kondisi seperti itu, BMKG meminta bandara untuk menunda kegiatan penerbangan.

”Jarak pandang sangat pendek bukan hanya karena asap, melainkan juga campuran dengan kabut akibat hujan yang turun malam sebelumnya,” ujar Warih.

Duty Manager Bandara SSK II Ibnu Hasan menyatakan, sejak pukul 06.00 kondisi cuaca tidak memungkinkan untuk pendaratan atau penerbangan. Sejumlah penerbangan dari Pekanbaru ke Jakarta, seperti Lion Air dan Mandala Air yang semestinya berangkat pukul 07.00, ditunda.

”Pada pukul 08.00, jarak pandang mulai membaik sehingga aktivitas bandara dibuka. Kondisi cuaca berimbas pada jadwal penerbangan. Garuda yang semestinya mendarat pukul 08.30 mundur pukul 10.30. AirAsia juga mundur sekitar dua jam dari jadwal pendaratan,” kata Ibnu.

Penutupan Bandara SSK II karena kabut asap merupakan yang keempat kali pada Juli 2009. Sebelumnya Bandara SSK ditutup pada Minggu (5/7), Jumat (10/7), dan Sabtu (18/7).

Warih menambahkan, dalam dua hari ke depan, peluang hujan masih akan terjadi di Riau. Namun, belum ada jaminan hujan dapat memadamkan semua titik api. Pada Minggu (19/7), jumlah titik api di Sumatera mencapai 100 titik, di Riau ada 16 titik api.

Rp 200 miliar lebih

Menurut Staf Ahli Menteri Kehutanan Bidang Kemitraan, Wandoyo Siswanto, Minggu seusai membuka Giriwana Rally 2009 di Bumi Perkemahan Cikundul, Kota Sukabumi, untuk mengatasi kebakaran lahan dan hutan di Sumatera dan Kalimantan, Departemen Kehutanan mengusulkan dana Rp 200 miliar lebih pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan 2009.

Dephut juga berkoordinasi dengan Pemerintah Malaysia terkait dengan asap dan penanganan kebakaran. ”Harus diidentifikasi dulu, kebakaran terjadi di hutan atau di lahan perkebunan. Kalau terjadi di lahan perkebunan perusahaan Malaysia, biasanya Pemerintah Malaysia memberikan bantuan,” kata Wandoyo.

Kebakaran paling banyak dipicu oleh pembukaan lahan. ”Cara pembakaran masih menjadi pilihan karena murah. Pelaku tidak memikirkan dampaknya,” katanya. Di Sumatera, titik api paling banyak ditemukan di Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Selain berupaya mengendalikan kebakaran lahan dan hutan, Dephut juga mulai menyusun strategi penanganan dampak kebakaran pada 2010. Apalagi tahun depan diperkirakan akan terjadi kemarau agak panjang karena fenomena el Nino

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: