Air Tak Cukup, Petani Nekat Tanam Padi

Kompas 2009-07-21/E-paper: Nusantara hal 22

Slawi – Sejumlah petani di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, nekat menanam padi meski air makin kurang. Mereka mengandalkan air dari sumur pantek yang disedot dengan mesin pompa air. Akibatnya, biaya meningkat.

Kondisi tersebut terlihat di Kecamatan Dukuhwaru dan Kramat, Kabupaten Tegal. Rahman (54), petani di Desa Gumayun, Kecamatan Dukuhwaru, Senin (20/7), mengaku menanam padi sejak dua pekan lalu.

Menurut dia, sawahnya hanya cocok ditanami padi. Kalau banyak hujan, biaya tanam Rp 2,4 juta, sedangkan kalau harus menyedot air dengan pompa diesel biaya sampai Rp 4 juta. Kalau bagus ia bisa panen 3 ton padi.

Hal sama dinyatakan Dasnyan, petani di Desa Padaharja, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal. Hal itu dilakukan oleh petani yang memiliki uang. Petani yang tidak memiliki uang memilih mencari pekerjaan lain, seperti menjadi buruh bangunan.

Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat Helmy Anwar mengimbau petani untuk tidak menanam padi karena ada gejala El Nino yang berpotensi menyebabkan kemarau panjang hingga akhir 2009.

Petani lebih baik menanam tanaman palawija yang tidak membutuhkan air terlalu banyak.

Helmy mengaku menyiapkan sejumlah strategi untuk mengantisipasi potensi datangnya El Nino yang diramalkan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional beberapa waktu lalu.

Ketua Harian Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Jabar Entang Sastraatmadja mengatakan, pihaknya bersama dengan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jabar mulai menggodok solusi guna menyiasati potensi ancaman kekeringan. Misalnya, pemerintah harus mendukung upaya petani membangun embung-embung untuk menampung air ketika curah hujan masih tinggi. Air dalam embung dapat dimanfaatkan mengairi lahan pertanian pada musim kemarau.

Berdasarkan data HKTI Jabar, dari sekitar 900.000 hektar lahan persawahan di Jabar, hanya 450.000 hektar yang beririgasi teknis. Selebihnya, petani mengandalkan curah hujan untuk mengairi sawah.

Sumur menyusut

Sumur milik 120 keluarga di Dusun Plosorejo, Desa Simo, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, mulai menyusut. Warga memperkirakan air di sumur habis sebulan lagi.

Mudin, warga Plosorejo, mengatakan, seminggu terakhir air di sumurnya mulai berkurang. ”Karena itu air sumur hanya untuk minum dan memasak. Untuk mandi dan mencuci kami pergi ke sumber air,” kata Mudin.

Menurut Muji dan tetangganya, Waji, mengeringnya sumur terjadi sejak tujuh tahun lalu.

Kepala Dusun Plosorejo Parno menduga berkurangnya debit air di sumur warga terjadi karena di Desa Kuwu dan Desa Pacinan, yang bersebelahan dengan Plosorejo, banyak dibuat sumur pompa untuk mengairi lahan pertanian. ”Selain itu, ada sumur P2AT (Proyek Pengembangan Air Tanah) untuk mengairi lahan pertanian di Simo yang juga menyedot air sumur warga,” kata Parno.

Direktur Utama PDAM Kabupaten Madiun Subiantoro membenarkan sumur pompa dengan kedalaman 25-30 meter untuk mengairi pertanian bisa menyedot air di sumur warga. Adapun sumur P2AT tidak menyedot air sumur warga karena mengambil sumber air di kedalaman lebih dari 100 meter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: