Ribuan Hektar Sawah Terancam Gagal Produksi

Kendari Pos 2009-07-15/Bumi Anoa: hal 5

Kasipute– Dampak kehadiran pendulang emas yang mengolah tambang emas di Bombana mulai dirasakan para petani sawah.

Petani daerah itu tidak bisa bercocok tanam karena areal persawahan mereka tak algi mendapat pasokan air hingga mengalami kekeringan.

Areal yang mengalami kekeringan tersebar di beberapa wilayah Kecamatan Rumbia, Lantari Jaya hingga Rarowatu Utara.

Tanah ribuan hektar sawah itu terlihat pecah-pecah akibat kekeringan. Bahkan padi yang sudah ditanam diatasnya, tidak lagi berkembang sehingga terancam  puso dan gagal produksi.

“Selain, bergantung air hujan, persawahan disini juga mengandalkan aliran sungai dari kawasan pertambangan emas untuk bercocok tanam”, ungkap Basri, warga Kecamatan Rarowatu.

Namun sejak puluhan ribu pendulang serta investor masuk mengelolah emas, tidak lagi ada pasokan air sungai. Padahal, sebelum adanya emas dan terjadi kemarau, petani sawah di wilayahnya masih bisa menanam.

“Bagaimana air sungai bisa tiba disini, daerah alirannya saja sudah tidak terbentuk karena dirusak pendulang. Bahkan, di lokasi pertambangan milik salah satu investor, air sungai dibendung untuk memudahkan mereka mengeloah emas”, ungkap Suraji, petani sawah lainnya.

Menurut Kepala Desa Hukae, Kecamatan Rarowatu Utara, Samsuddin juga mengeluh tentang hal tersebut.

Saat dia bertemu dengan para investor pekan lalu, dia mengungkapkan hambatan warga yang berprofesi sebagai petani sawah untuk bercocok tanam adalah air.

‘Sungai yang sudah tidak terbentuk agar diperbaiki investor sehingga masyarakat saya tidak mendulang bisa bersawah”, ungkapnya.

Selain di Rarowatu Utara, di Lantari Jaya dan Rumbia, juga terhampar persawahan yang mengering. Bahkan, beberapa persawahan dianataranya menjadi lahan tidur karena pemiliknya belum berniat mengelolah sawahnya.

“Bagaimana kami mau mengelolah, disini kemarau terus. Padahal untuk bersawah selain mengandalkan air tadah hujan, kami juga mengandalkan air yang mengalir di sepanjang salauran Sangkona.

Tapi sekarang semua sumber air itu mengering. Mudah-mudahaan, hujan yang mulai turun dua lalu bisa membantu kami bercocok tanam meski sudah terlambat”, ungkap Uli, warga Rumbia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: