Enam Burung Sumatera Terancam Punah untuk Prangko

Kompas  2009-07-15/E-paper: Humaniora

Jakarta- Sebanyak enam jenis burung yang terancam punah dengan habitat hutan tropis di Sumatera dijadikan gambar prangko baru. Prangko senilai Rp 2.500 yang diterbitkan masing-masing 300.000 lembar tersebut akan diluncurkan pada Rabu (15/7) ini oleh Menteri Kehutanan MS Kaban berkaitan kegiatan Perayaan Keragaman Burung di Indonesia.

”Kita turut prihatin, pembukaan hutan terus berlangsung dan mengancam kepunahan burung-burung,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Departemen Kehutanan Darori pada konferensi pers, Selasa di Jakarta.

Darori didampingi Direktur Pos pada Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi Departemen Komunikasi dan Informatika Ingrid R Pandjaitan serta Ketua Dewan Burung Indonesia Ani Mardiastuti.

Dari keenam jenis burung tersebut, menurut Lembaga Konservasi Dunia (International Union for Conservation of Nature/IUCN), dinyatakan mendekati terancam punah (near threatened) meliputi luntur kasumba (Harpactes kasumba), julang jambul hitam (Aceros corrugatus), cekakak hutan melayu (Actenoides concretus), dan kuau raja (Argusianus argus).

Dua jenis burung berikutnya, mentok rimba (Cairina scutulata) dan bangau storm (Ciconia storm), dinyatakan IUCN dalam status genting (endangered).

”Jenis burung mentok rimba itu dulu ada di Jawa, tetapi sekarang sulit ditemui lagi. begitu pula untuk bangau storm,” kata Ani Mardiastuti.

Ingrid Pandjaitan mengungkapkan, penerbitan prangko dengan gambar enam burung terancam punah yang saat ini masih bisa ditemui di Sumatera itu selain menjadi alat tukar bayar, juga menjadi wahana edukasi.

Darori mengatakan, penyelamatan jenis burung yang terancam punah dapat dilakukan dengan mencontoh perlakuan pada burung jalak bali (Leucopsar rothschildi) yang ditangkap, kemudian ditangkarkan.

Sekitar 10 tahun yang lalu, sulit sekali ditemukan jalak bali ini, tetapi dengan bantuan berbagai lembaga swadaya masyarakat, sekarang dapat dikembangbiakkan.

”Baru-baru ini data di Yokohama, Jepang, saja ada 300 ekor jalak bali,” kata Darori.

Darori mengatakan, kepunahan satwa, seperti harimau jawa, akibat larangan penangkapannya untuk ditangkarkan. Kebijakan seperti ini semestinya dihindarkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: