Atasi Sedimentasi, Petani Disekolahkan

Kompas  2009-07-15/E-paper: Nusantara

Banjarnegara– Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, akan menyelenggarakan sekolah lapangan bagi para petani di pinggir daerah aliran sungai yang menuju Bendungan Mrica.

Ini merupakan upaya mendidik petani agar ramah lingkungan dan mencegah erosi yang merupakan penyebab utama sedimentasi yang kian parah di Bendungan Mrica.

Sekolah lapangan diselenggarakan bekerja sama dengan PT Indonesia Power selaku pengelola PLTA Mrica. Pada tahap awal, sekolah tersebut difokuskan untuk para petani di Desa Kubang, Kecamatan Wanayasa, dan Desa Leksana, Kecamatan Karangkobar.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjarnegara Syamsudin, Senin (13/7), berharap, dengan sekolah lapangan itu, para petani dapat menyebarluaskan ilmu yang didapat kepada petani lainnya.

”Dengan demikian, erosi dapat diminimalkan dan perekonomian petani pun bisa terangkat,” kata Syamsudin di Banjarnegara.

83 juta meter kubik

Tingkat sedimentasi di Bendungan Mrica saat ini diperkirakan mencapai 83 juta meter kubik. Jumlah tersebut jauh di atas ambang batas normal sedimentasi di bendungan ini yang hanya 36 juta meter kubik. Akibat sedimentasi berlebih itu, usia Bendungan Mrica diperkirakan kian pendek.

Manajer Hubungan Masyarakat PT Indonesia Power Unit Mrica Gunawan mengungkapkan, PT Indonesia Power sangat membutuhkan partner untuk mengatasi sedimentasi yang berbahaya bagi kelangsungan pembangkit listrik.

Banyak program yang sudah dibuat PT Indonesia Power untuk mengatasi masalah lingkungan, khususnya erosi sungai menuju Mrica, tetapi hasilnya masih kurang maksimal.

”Sampai akhirnya kami melihat kalau di Saguling, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, sekolah lapangan justru bisa memberikan solusi dari segala permasalahan lingkungan. Jadi, kami mencobanya di Banjarnegara bekerja sama dengan pemkab,” kata Gunawan.

Direncanakan, petani akan diajar cara membuat kompos, pupuk bokashi, pengolahan tanah, hingga pembibitan kopi.

Sekolah lapangan ini akan menelan biaya Rp 100 juta. Pada tahap awal, hanya akan mengambil dua desa di Kecamatan Wanayasa dan Karangkobar.

Jika berhasil, program serupa akan diselenggarakan di semua daerah tangkapan air se-Banjarnegara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: