1.000 Hektar Sawah Terancam Kekeringan

Kompas 2009-07-14/E-paper; Nusantara hal 22

Cirebon – Sekitar 1.000 hektar sawah di Kecamatan Kapetakan dan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terancam kekeringan. Volume air di Bendung Rentang di Majalengka yang menjadi sumber irigasi di Cirebon, Majalengka, dan Indramayu mencapai titik kritis, yakni 14 meter kubik per detik.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Kehutanan, dan Perkebunan Kabupaten Cirebon Ali Efendi, Senin (13/7), sawah rawan kekeringan karena umur padi berkisar 1-1,5 bulan. Untuk itu, pihaknya sudah membagikan pompa air.

Berdasarkan pengamatan, sebagian sawah masih teraliri air irigasi, tetapi sebagian lain ditelantarkan karena sudah kering.

Carlan (45), petani Desa Suranenggala Lor, menyatakan, petani yang tanaman padinya berusia kurang dari sebulan memilih tak melanjutkan mengolah sawah karena ongkosnya mahal. Sekali memompa air butuh 5-6 liter bensin, padahal air dibutuhkan hingga tanaman berusia dua bulan.

Sebaliknya, di Kabupaten Karawang, target produksi 1,32 juta ton gabah kering panen tahun ini diperkirakan tercapai. Kebutuhan air untuk sebagian besar persawahan relatif terpenuhi dibandingkan dengan musim tanam gadu tahun lalu.

Menurut Wakil Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Kabupaten Karawang Ijam Sujana, Senin, hal itu terjadi karena petani langsung mengolah lahan dan menebar benih seusai panen.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Karawang Nachrowi Muhamad Nur menyatakan, dengan asumsi aliran Sungai Citarum normal, kebutuhan 3,99 miliar meter kubik air untuk irigasi, industri, listrik, dan air baku minum hingga akhir tahun tercukupi oleh pasokan dari Waduk Ir H Djuanda Jatiluhur.

Kekeringan meluas

Kekeringan di Kabupaten Blora dan Kota Tegal, Jawa Tengah, meluas. Kekeringan juga melanda Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, serta Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Di Blora, warga mulai membeli air jeriken dari tukang becak penjual air. Di Kecamatan Jati, warga 10 desa meminta pengedropan air. Kesulitan air bersih juga mulai terjadi di Kota Tegal. Sebagian sumur warga mengering dan berbau sejak dua bulan lalu.

Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial Kabupaten Blora Waluyo menyatakan, tahun 2009 Pemerintah Kabupaten Blora menganggarkan Rp 140 juta untuk pengadaan air bersih di desa-desa yang kekurangan air. Di Blora ada 94 dari 270 desa yang rawan kekeringan.

Kepala Kantor Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat Kota Tegal Sugeng Suwaryo mengatakan, sekitar 11 dari 27 kelurahan di Kota Tegal rawan kesulitan air bersih.

Di Kabupaten Gunung Kidul, air di bak penampungan air hujan warga telah mengering karena hujan tak turun selama dua bulan terakhir. Warga harus memenuhi kebutuhan air bersih dengan membeli dari mobil tangki air keliling.

Mayoritas warga di wilayah selatan Gunung Kidul menghemat air dengan memanfaatkan air telaga untuk mencuci dan mandi.

Ribuan keluarga di Kabupaten Kediri juga kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka mengandalkan pasokan air dari PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Warga yang kesulitan air bersih tersebar di Kecamatan Tarokan, Puncu, Kepung, Banyakan, Mojo, Semen, Ngancar, dan Plosoklaten. Warga tidak memiliki sumur karena tinggal di dataran tinggi bertebing terjal.

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga mengandalkan tandon-tandon air yang dibangun secara berkelompok, baik oleh pemerintah maupun swadaya masyarakat. Namun, pada musim kemarau, tandon-tandon air itu banyak yang kosong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: