"Kasipupungkota" Demi Generasi Emas Suku Bajo

Kompas 2009-07-10/e-Paper: Nusantara hal 22

Oleh: Agung Setyahadi

Langit biru bertabur gumpalan awan putih terpantul di permukaan
air teluk Kendari, Sulawesi Tenggara, yang tenang dan jernih. Lukisan
alam itu sesekali terkoyak sampan bercadik di sepanjang sisi timur
teluk.

Sampan-sampan itu merapat di jembatan kayu yang memanjang sejajar deretan perumahan yang masuk Desa Mekar, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe. Di sela-sela tiang jembatan, anak-anak kecil bermain air. Mereka sesekali berenang saling kejar sambil tertawa lepas tanpa beban.

“Kami sering dilecehkan, dianggap bodoh dan dipandang sebagai masyarakat kelas dua karena tidak sekolah. Kami harus membalik stigma itu dan hanya bisa dilakukan jika orang Bajo bersekolah,” ujar Parman (23), pemuda Bajo di Desa Mekar.

Mahasiswa semester VI Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan, Fakultas Ekonomi, Universitas Haluoleo (Unhalu) Kendari, itu tidak ingin komunitasnya menjadi bulan-bulanan modernisasi.

Sejak meninggalkan pola hidup mengembara di laut dan menetap di
sisi timur teluk Kendari pada 1986, lanjut Parman, perubahan untuk beradaptasi dengan sistem sosial “darat” sangat lamban.

Pendidikan formal hanya sebatas bisa membaca, menulis, dan berhitung. Karena itu, banyak anak sekolah yang “patah pena” alias putus sekolah di kelas 3-4 sekolah dasar.

Parman masih ingat, tahun 1991-1994 hanya ada satu siswa Bajo yang
lulus SMA. Pada angkatan sekolah 2001-2004 hanya ada tiga siswa Bajo yang lulus SMA, salah satunya Parman.

Parman, misalnya, selepas SD melanjutkan ke SMP di Tolonipa sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Setiap hari selama tiga tahun, ia pergi dan pulang sekolah berjalan kaki. “Kalau berangkat harus pagi-pagi karena butuh 1 jam jalan kaki,” kenang Parman.

Selepas SMP, ia masih memiliki semangat untuk meneruskan ke bangku SMA. Namun, ibunya tak mampu membiayainya di Kendari. Kondisi ekonomi kian memprihatinkan setelah ayah Parman meninggal.

Dalam masyarakat Bajo ada pasipupukongta, pertemuan keluarga untuk melakukan sesuatu bersama-sama. Dalam pasipupukongta itu disepakati biaya sekolah Parman akan ditanggung bersama oleh keluarga besarnya.

Semangat pasipupukongta juga menolong Jumriyati (19) dan Rizal (22) untuk melanjutkan sekolah hingga kuliah. Jumriyati kini semester II Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Haluoleo. Rizal menjalani semester VI Akademi Manajemen Informatika dan Komputer Yapenas.

Membagi beban biaya sekolah saat ini diperuntukkan 25 mahasiswa Bajo dari Desa Mekar, Bajoe, Bokori, Saponda Laut, dan Saponda Darat. Mereka inilah generasi emas suku Bajo yang ingin membebaskan masyarakatnya dari keterpurukan.

Di dua desa lain, Leppe dan Bajo Indah, belum ada yang sampai
kuliah. Dibandingkan dengan populasi 5.000 jiwa di ketujuh desa itu, jumlah mahasiswa Bajo baru segelintir.

Di tingkat provinsi, baru ada 150 anak Bajo yang kuliah D-3 maupun S-1. Lalu, setiap akhir pekan para mahasiswa itu pulang ke desa masing-masing, bergerilya menebar kesadaran pentingnya arti pendidikan.

Jumriyati menjadi semacam inspirator bagi anak-anak perempuan Bajo untuk meraih pendidikan setinggi mungkin. Ia dikenal lihai berbahasa Inggris sejak SMP dan prestasinya melebihi anak-anak lelaki Bajo. Indeks prestasinya 3,65.

Sekarang dari 25 mahasiswa Bajo di sekitar Desa Mekar, 15 di antaranya perempuan. Generasi muda Bajo kini mengobarkan perlawanan melalui jalur
pendidikan. Para pengembara laut itu membuktikan diri mereka bisa mengikuti modernisasi.

2 Responses

  1. aku sdikit banyak tau gi mana kehidupan masyarakat suku bajoe di desa mekar kec.soropia itu.kehidupan mereka maaf di bawah garis kemiskinan.seharusnya pemda setempat juga memprhatikan masyarakat di sana,memberi lapangan pekerjaan atau apalah agar suku bajo lagi gak di pandang seblh mata oleh suku2 yg laen atauoun masyrkat di luar dari lingkup suku bajo.
    semoga anak2 suku bajo yg bisa menuntut ilmu ke bangku kuliah itu,mereka bisa membagi ilmu mereka terhadap masyrakat disana.
    salam kenal buat penulis blog ini.wassallam……

  2. wah aq juga dulu suka ke soropia penelitian di campus….sukses yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: