Gubernur Kaji Pelanggaran Tambang Emas Bombana

Media Sultra 2009-07-10/Ibukota: hal 6

Kendari-  Gubernur Sultra, sedang melakukan pengkajian pelanggaran di tambang emas Bombana. Jika pelanggaran tersebut sudah cukup, maka akan dibawa ke aparat kepolisian utnuk diproses secara hukum, agar pelakunya segera mendapat tindakan hukum.

Hal tersebut diungkapkan, untuk menanggapi kompleksnya permasalahan di lokasi tambang emas Bombana, dalam sesi jumpa pers di kantornya, Kamis kemarin (9/7).

Menurut Nur Alam, kita sedang melakukan pengkajian terhadap pelanggaran yang terjadi di tambang emas tersebut dan akan kita laporkan.

Salah satu pokok pengkajian Gubernur Sultra adalah fakta masih beroperasinya penambangan emas baik perorangan maupun perusahaan di Bombana hingga saat ini. Padahal penutupan lahan tambang disepakati dilakukan per 1 Juni lalu.

Ia juga mensinyalir adanya oknum di Bombana yang karena ego otonomi daerah melakukan kelalaian dan keteledoran dengan tetap memberikan izin eksploitasi tambang emas namun hanya untuk kepetniangan segelintir orang.

Tapi, sayang Gubernur Sultra tidak merinci siap oknum penguasa tersebut.

“Seharusnya pengusaha, pemerintah swasta, dan BUMN patuh pada azas-azas lingkungan, dan sama sekali tidak boleh dilanggar. Tapi yang terjadi di Bombana justru pelanggaran dan pengrusakan terhadap lingkungan,” ungkapnya.

Gubernur Sultra, menyatakan nilai nominal yang dihasilkan dari pengelolaan emas di Bombana sejak tahun lalu bila dikonversi  ke rupiah sudah mencapai angka sangat fantastis, yakni Rp. 2 Triliun.

Namun, Ia merasa miris dengan fakta bahwa sebagaian besar dinikmati orang diluar Sultra.

Nur Alam, juga menyinggung keberadaan KP seperti yang terjadi di Konut, dimana sejumlah klaim lahan yang dimiliki oleh pemegang KP yang jumlahnya 108 itu justru lebih besar dibandingkan luas keseluruhan lahan Konut.

Terkait dengan hal tersebut, Gubernur sudah memerintah PJ Bupati Konut untuk melakukan pengecekan kembali terhadap KP-KP yang bermasalah.

“Kalau bermasalah saya perintahkan untuk diputihkan atau dihapuskan saja, lalu kita petakan ulang  lahan-lahan tersebut mulai dari kawasan konservasi, hutan lindung, hutan produksi hingga HPL agar tidak saling tumpang tindih”, ungkapnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: