Ancaman Kurang Hujan di Barat Indonesia

Kompas 2009-07-10/E-paper: Humaniora

Jakarta- Selain fenomena El Nino yang mulai terindikasi akhir Mei lalu, awal Juli ini mulai terlihat kecenderungan terjadinya Dipole Mode Event positif di Samudra Hindia. Kedua fenomena itu berpotensi menimbulkan curah hujan yang di bawah normal, masing-masing di kawasan timur dan barat wilayah Indonesia.

Analisis musim ini disampaikan pakar cuaca Mezak Ratag dan Erna Sri Adiningsih, yang dihubungi terpisah, Kamis (9/7). Potensi terjadinya El Nino telah disampaikan Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Soeroso Hadiyanto pada Selasa, 23 Juni, lalu. Disebutkan peluang terjadinya El Nino 56 persen, sedangkan ke arah netral atau normal 43 persen.

Saat ini, menurut Mezak, probabilitas kejadian El Nino sekitar 55 persen dan probabilitas untuk netral adalah 40 hingga 45 persen. Di bagian ekuator dari Samudra Pasifik dan Papua hingga ke Peru, suhu muka laut naik sekitar 0,3 derajat celsius hingga 0,8 derajat celsius di atas normal.

”Ini tergolong El Nino lemah,” ujar Mezak, yang juga dosen luar biasa di Institut Teknologi Bandung.

Tekanan udara permukaan saat ini tercatat rendah, tetapi selisih tekanan antara Pasifik dan wilayah Indonesia belum cukup kuat untuk menarik banyak uap air dari Indonesia, yang akan menyebabkan kekurangan hujan. Saat ini suhu muka laut di daerah bagian timur Indonesia masih di atas normal.

”Hujan pada saat ini masih sering terjadi,” kata Mezak Ratag, yang kini menjadi Direktur Institut Litbang Lokon Foundation, yang bergerak di bidang pendidikan serta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Gangguan monsun

Curah hujan di kawasan Asia Selatan atau kawasan barat Samudra Hindia mengalami peningkatan. Hal ini terkait dengan kenaikan suhu permukaan laut di atas normal di Samudra Hindia, khususnya di pesisir timur Afrika dan Laut Arab, yang menyebabkan bertambahnya suplai uap air yang dibawa ke kawasan India. Hujan di India ini merupakan hujan monsun.

Namun, sebagian besar suhu muka laut di Samudra Hindia juga di atas normal, yaitu 0,3-0,8 derajat celsius. Ini menunjukkan terjadinya Dipole Mode Event positif, tetapi masih tergolong lemah sehingga tidak signifikan menarik uap air dari wilayah barat Samudra Hindia.

”Hujan lebat masih sering terjadi di Jawa karena suhu Laut China Selatan sampai setengah derajat di bawah normal dan tekanan udara lebih tinggi. Adapun belahan selatan bumi atau Australia sedang musim dingin,” ujarnya.

Sementara itu, Erna Sri Adiningsih, pakar cuaca dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), mengatakan bahwa dari data suhu muka laut, ada indikasi Dipole Mode Event negatif di Samudra Hindia, tetapi intensitasnya sedang.

Pada kondisi Dipole Mode Event negatif, mekanisme yang terjadi adalah hujan di India atau Teluk Benggala akan berkurang.

”Kalau kenyataan adalah sebaliknya, bisa jadi ada mekanisme lain, seperti monsun Asia yang kuat atau ada Osilasi Maden Julian di Samudra Hindia,” ujarnya. Untuk memastikannya harus melihat data lebih lanjut tentang indikasi dua fenomena tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: