Sungai Brantas Terancam Kering

Media Indonesia 2009-07-07/Berita Terkini

Surabaya: Sungai Brantas terancam mengalami kekeringan, karena dari 111 sumber mata air, kini tinggal 57 mata air yang masih hidup. Oleh karena itu, Gubernur Jawa Timur Soekarwo di Surabaya, Senin memerintahkan Perum Jasa Tirta I dan Perum Perhutani segera melakukan penghijauan pada lahan sekitar Sungai Brantas.

“Kami juga akan mendorong agar Jasa Tirta I dan Perhutani segera melakukan langkah-langkah rebosiasi di wilayah yang gundul. Setidaknya sumber mata air yang masih ada harus dipertahankan,” katanya saat ditemui di gedung DPRD Jatim di Surabaya.

Menurut dia, langkah kedua yang harus segera dilakukan adalah penanaman dengan sistem ‘terasiring’. Soekarwo mengusulkan agar dividen dari Perhutani dan Jasa Tirta digunakan untuk membeli tanah di dataran tinggi seluas 100 hektare.

Tanah tersebut harus segera dilakukan reboisasi. “Sekarang di Desa Sumber Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pohon yang paling bagus untuk mempertahankan dan menciptakan sumber mata air adalah pohon aren,” katanya.
Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup tingkat Provinsi Jatim di Batu, akhir Juni 2009 Soekarwo juga telah meminta Jasa Tirta dan Perhutani untuk segera melakukan langkah-langkah penyelamatan lingkungan.

Pemprov Jatim sangat berkepentingan menjaga kelestarian sumber mata air di Sungai Brantas. Sebab sumber mata air yang mengalir ke sungai itu menopang kebutuhan air di 14 kota/kabupaten di provinsi ini.

“Ini tidak bisa ditangani Pemprov Jatim sendiri, tetapi perlu campur tangan pemerintah pusat. Salah satu upaya yang sangat penting adalah melakukan penghijauan,” kata gubernur.

Dari data Badan Lingkungan Hidup (BLH) Jatim, kondisi lingkungan di Batu memang memprihatinkan, karena terdapat 925 hektare lahan kritis di dalam kawasan hutan. Sedangkan di luar kawasan hutan, terdapat sekitar 1.899 hektare lahan kritis.

Dari 111 sumber mata air saat ini, hanya tersisa 57 sumber air yang masih hidup, sehingga sebanyak 54 sumber lainnya sudah mati. Matinya sumber mata air tersebut akibat banyaknya penebangan liar dan pengelolaan lahan yang meninggalkan konservasi tanah.

“Pada musim kemarau, sumber mata air yang masih mengalir hanya tinggal beberapa sumber. Yang besar hanya satu sumber. Dulu sumber yang besar itu memiliki kedalaman 1,2 meter, tapi kini hanya sekitar 20 sentimeter,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: