Aktivitas Pertambangan di Flores Perlu Dihentikan

Kompas 2009-07-07/e-Paper: Humaniora

Jakarta- Aktivitas eksplorasi pertambangan emas yang dilakukan di Batu Gosok, Kecamatan Komodo, Pulau Flores, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, perlu dihentikan. Selain mengancam kawasan konservasi komodo, perizinan dan persyaratan-persyaratan lain harus dipenuhi terlebih dahulu.

Ahli Perencanaan Wilayah Universitas Trisakti, Jakarta, Yayat Supriatna, Senin (6/7), mengatakan aktivitas pertambangan tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus mengacu pada Undang-Undang Lingkungan Hidup serta Undang-Undang Tata Ruang Nomor 26 Tahun 2007.

Dalam ketentuan undang-undang tersebut dinyatakan, setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya alam atau pemanfaatan ruang harus membuat ketentuan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

”Aktivitas di Batu Gosok tersebut sudah membuat KLHS atau belum? Jika belum, aktivitas pertambangan di tempat tersebut harus dihentikan,” kata dia.

Di sisi lain, harus dilihat pula aktivitas pertambangan di tempat tersebut dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) nasional, provinsi, dan RTRW kabupaten. Dalam RTRW nasional, kawasan tersebut dinyatakan sebagai kawasan konservasi.

”Di kawasan konservasi, tidak boleh ada kegiatan eksplorasi apalagi eksploitasi,” tegas Yayat.

Jika ada pemberian izin yang tidak sesuai dengan peruntukan kawasan, lanjut Yayat, pejabat yang mengeluarkan izin bisa dikenai sanksi yang tidak ringan. ”Jadi harus hati-hati saat mengeluarkan izin,” ujarnya.

Upaya menggagalkan

Secara terpisah Kepala Dinas Perhubungan, Informatika, dan Komunikasi Kabupaten Manggarai Barat S Yanto mengatakan, aktivitas pertambangan di Batu Gosok sekarang berada dalam tahap eksplorasi dan lokasinya sangat jauh di luar Kawasan Taman Nasional Komodo. Saat ini di kawasan tersebut sudah dibangun jalan sepanjang 31 kilometer, yaitu 21 kilometer dibuat oleh pemerintah dan 10 kilometer oleh investor pertambangan.

Saat ini juga sudah dimasukkan pipa ke dalam perut bumi dengan kedalaman 200 meter-250 meter. Jumlahnya ada 8-10 lubang.

”Pemberitaan soal aktivitas pertambangan tersebut, kami nilai sebagai upaya menggagalkan komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia,” ujar S Yanto.

Secara terpisah Office for Justice, Peace and Integrity of Creation OFM-Kelompok Peduli Manggarai menilai, keinginan Indonesia untuk menjadikan komodo sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia terancam gagal gara-gara aktivitas pertambangan tersebut. Padahal, saat ini proses seleksi sedang berlangsung dan komodo termasuk yang sangat difavoritkan serta berada di urutan keenam.

Yayat menambahkan, walaupun berada di luar kawasan Taman Nasional Komodo, aktivitas pertambangan akan mengganggu wilayah inti. Sebab, aktivitas pertambangan, pasti akan menghasilkan limbah yang dibuang ke laut. Di sisi lain, jika kegiatan pertambangan sudah beroperasi, penduduk lain pasti akan berdatangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: